Menanamkan Toleransi Sejak Dini, Ini yang Dapat Kita Lakukan!

5/10/2019 Yusmira Yunus 4 Comments


Gambar: FB Rahmawati
Bangsa Indonesia adalah bangsa plural yaitu bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya dan adat istiadat. Negara yang selalu mengakui keberagaman di tengah kehidupan bermasyarakat berdasarkan pancasila sebagai Dasar Negara. 
Telinga rasanya semakin akrab dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda beda tetap satu juga. Semboyan ini memiliki makna  yang sangat luar biasa bagi bangsa Indonesia sebagai simbol persatuan dan kesatuan dan kerukunan. 
Damai rasanya hati ini hidup di tengah masyarakat yang saling menghargai, tak ada caci maki, tak ada saling bully, semua saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada tanpa memaksakan kehendak pada orang lain. 
Sebagai orang tua, melihat anaknya dapat menghargai teman-temannya dalam bergaul adalah hadiah yang luar biasa, terlebih jika tetap dalam kesantunan di tengah kehidupan masyarakat yang heterogen.
Anak-anak harus diajarkan toleransi sejak dini, karena ini akan menjadi bekal mereka hidup di tengah masyarakat yang plural, sebagai bangsa Indonesia. 
Lalu apa saja yang dapat kita lakukan untuk membiasakan anak bertoleransi sejak dini?
Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan, diantaranya:
Memberi contoh yang baik
Gambar: Google
Saya teringat dulu, ketika masih di sekolah dasar ditahun 1999, setiap Idul Fitri teman-teman yang beragama Nasrani dan Hindu, selalu berkunjung ke rumah. Sebagai anak kecil, kami senang ketika makan kue bersama sambil minum sirup orange yang mama sediakan,  bermain bersama lalu ibu mengantar teman-teman mengambil angkutan umum untuk pulang. 
Saya pun demikian, ketika mereka mengadakan Natal, saya dan beberapa teman berkunjung ke rumah mereka, memberi selamat. Ibu bahkan membungkuskan hadiah untuk mereka.  Tetapi satu sahabat saya meniggal karena melahirkan, sayang tak sempat melihat karena dia di kampung waktu itu. 
Orang tua akan  selalu mengajarkan dan mengingatkan, bahwa berbicara dengan baik dan sopan adalah wujud penghargaan kita pada makhluk Tuhan. Menghargai sesama adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta dan kehidupan yang diberikan.
Bercanda di depan anak tentang hal-hal yang  mengandung unsur SARA, akan berdampak bagi pergaulan anak, ingat bahwa anak-anak adalah makhluk yang sangat cerdas meniru. Ketika anak kita membully mungkin tanpa kita sadari, kita pernah membully orang di depan mereka, sadar ataupun tidak.  
Perkenalkan Budaya lewat buku dan tontonan, lebih baik lagi jika mengalami sendiri.
Gambar: Dokumen Pribadi
Pekan budaya yang dicanangkan  Walikota Makassar beberapa waktu lalu, yang akan diadakan setiap tanggal 1 April diikuti hampir seluruh sekolah merupakan salah satu cara untuk mengajarkan anak-anak akan budaya Indonesia yang kaya. Mereka mengenakan berbagai pakaian adat dari daerah lain dan mempelajarinya di dalam kelas-kelas dan ruang-ruang publik yang ramah. 
Budaya juga dapat diperkenalkan lewat buku dan tontonan, menonton berbagai macam film budaya dengan latar belakang suku dan demografi akan memancing motivasi anak untuk  belajar dan menghargai keanekaragaman yang ada. Mereka akan melihat ini sebagai kekayaan  bangsa. 
Menemani anak ketika membaca dan menonton adalah kegiatan paling baik untuk menanamkan mereka akan hal-hal baik yang mereka dapatkan dari buku dan tontonan tersebut. 
Hargai anak, perlakukan mereka dengan hormat
Gambar: FB Rahmawati
Anak-anak yang diperlakukan dengan rasa cinta dan hormat, akan tumbuh menjadi anak yang memiliki pribadi yang kuat, percaya diri,  pribadi yang santun dan tidak memaksakan kehendak. 
Sebaliknya anak-anaknya yang tumbuh di tengah keluarga yang keras dan jauh dari sikap saling menghargai dan menghormati, anak-anak akan tumbuh dengan sifat yang keras kepala dan cenderung kasar. Apa yang mereka lihat, itu yang mereka lakukan. 
Demikianlah cara sederhana untuk mengajarkan dan menumbuhkan rasa toleransi anak sejak dini. 
Semoga artiklel ini bermanfaat




4 komentar:

Download Soal HOTS Pkn Tema 9 Siswa Kelas V SD

5/08/2019 Yusmira Yunus 0 Comments



Penerapan Soal HOTS tahun ajaran 2018/2019 mulai diterapkan di Ujian Nasional tahun ini. Mengingat beberapa tahun belakangan, soal Ujian Nasional kelas enam mangambil kisi-kisi irisan soal KTSP dan soal Kurikulum 2013. Soal yang diujiankan masih bertaraf LOTS (Low Order Thingking Skill), dan hanya beberapa soal saja yang mengandung unsur syarat soal HOTS.

HOTS adalah singkatan dari Higher Order Thingking Skill, merupakan taraf berpikir kritis yang mendorong kemampuan siswa untuk berpikir lebih aktif dan kritis. Siswa diajak berfikir melalui beberapa tahap kognitif sehingga mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Soal level HOTS bukan hanya menggiring siswa untuk mengetahui konsep suatu ilmu tetapi siswa diarahkan untuk menerapkan dan mengaplikasikan konsep tersebut dalam studi kasus atau dalam permasalahan di kehidupan sehari-hari. Siswa mampu merangkai, membuat atau bahkan menciptakan sebuah produk dari hasil internalisasi konsep pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki. Siswa yang dapat menganalisa suatu permasalahan dapat dikatakan bahwa siswa tersebut mampu berfikir HOTS.

Penekanan Soal HOTS diantanya:

1.    Dapat mentransfer konsep ke konsep lain berdasarkan kasus kontekstual

2.    Dapat memilih satu konsep dan beberapa konsep dalam menyelesaikan permasalahan

3.    Dapat menghubungkan masalah yang berbeda lalu membuat kesimpulan disertai sudut pandang berbagai ilmu pandangan lalu menyimpulkan dengan  pendapatnya sendiri

4.    Dapat menguji informasi atau gagasan

5.    Menilai, mengkrisi informasi berdasarkan fakta dan teori

6.    Dapat menginterpretasikan suatu informasi

Sedangkan Penekatan dalam pembuatan soal HOTS sebagai berikut:

1.    Penalaran informasi bukan ingatan

2.    Ekplorasi dan analisis

3.    Pertanyaan dan jawaban

Download contoh soal Esai HOTS kelas 5  di bawah ini:

1. Contoh Soal HOTS PKn Tema 9 kelas 5 SD

0 komentar:

Sarjana Keguruan Adalah Calon Istri yang Tepat Berdasarkan 6 Fakta Ini.

5/07/2019 Yusmira Yunus 0 Comments

Sumber : Pixabay


"Tukisan ini adalah sekuel untuk tulisan tentang 15 alasan mengapa Cowok Teknik Sipil Pantas Dijadikan Jodoh."

Kami paham benar dengan yang namanya fondasi, baik fondasi bangunan maupun fondasi hubungan. www.idntimes.com

Menemukan tulisan di atas memantik tawa saya di depan suami. Artikel manis yang ditulis oleh anak sipil yang pastinya paling manis (kata cewek yang suka sama dia). #Eh

Sebagian besar saya setuju dengan 15 point penting yang telah disebutkan, saya tambahkan satu lagi yah biar imbang, anak sipil itu rata-rata anaknya cerdas hanya saja selesainya ditambah beberapa bulan dikit, bukan karena malas tetapi mereka suka belajar  dan mengabiskan beberapa semester untuk menjalankan hobi-hobinya. Mengenai soal perhatian sih yah, aku sih yes

Meskipun penilaian ini bersifat subjektif tetapi hal yang paling penting adalah mengenal “siapa” dengan baik calon jodoh kita.
Beberapa pengamatan dan wawancara langsung dengan beberapa narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya (ala-ala berita), perempuan yang paling tepat untuk dijadikan teman calon istri itu adalah cewek-cewek yang kuliahan di jurusan keguruan atau sarjana keguruan. 

Kami paham benar yang namanya cinta yang tulus, Siswa kami pun, kami sayangi, masa kamu tidak?

Dibalik kelembutan kami, kami bukan perempuan manja yang bisanya hanya bergantung dengan suami, kami perempuan mandiri, kuat  dan memiliki hati seluas samudera. 

Sumber: Pixabay
Di bawah ini beberapa fakta tentang sarjana keguruan. Simak, Yuk!
1.      Rata-rata ekpresi wajah sarjana keguruan itu “Menenangkan”

Cewek yang  rerata kuliah di jurusan keguruan adalah gadis dengan wajah yang menenangkan. Mengapa demikian? Karena yang dihadapai nanti selepas kuliah adalah para anak didik yang masih lugu dan lucu. Anak-anak yang membutuhkan perhatian dan bimbingan yang baik. Memiliki raut wajah yang mudah masam tergantung suasana hati dan galak sepertinya tidak cocok bergelut di dunia pendidikan. Dunia ini membutuhkan jutaan kelembutan, terlebih kelembutan dan ketenangan hati menghadapaimu wahai calon ayah dari anak-anakku. #Eh… .

2.      Sarjana keguruan itu SABAR

Memiliki kesabaran adalah salah satu syarat menjadi guru. Kesabaran yang akan dijalani adalah kesabaran yang akan terus dilatih dalam lingkungan pendidikan terlebih di lingkungan sekolah. Karakter siswa yang berbeda-beda dalam kelas dengan segala tingkah lakunya yang berubah-ubah mendorong seorang guru untuk terus bersabar. Menghadapi siswa saja kami harus bersabar apalagi menghadapaimu. 

3.      Sarjana keguruan pandai menyusun “Rencana”

Sebagai sarjana Keguruan, kita terlatih menyusun rencana kerja semester, tahunan bahkan  rencana pembelajaran di kelas setiap hari. Saat membelajarkan siswa, membuat RPP atau dikenal dengan Rencana Persiapan Pembelajaran adalah hal yang wajib guru  kerjakan. Jadi jangan ragu memilih guru sebagai pendamping hidup, pikiran dan persiapan kami dalam mengurus rumah tangga akan jauh lebih mapan. Setuju?

4.      Sarjana keguruan pasti penyayang

Memiliki sifat penyayang adalah salah satu sifat yang dimilki oleh seorang guru. Guru yang penyayang akan disayangi oleh siswa-siswanya. Dengan memberi siswa rasa sayang dan perasaan nyaman, ini menjadi motivasi yang kuat untuk membantu siswa menjadi lebih baik dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan sempurna. Siswa kami pun kami sayangi, masa kamu tidak?

5.      Sarjana keguruan, orangnya pemaaf

Memiliki pasangan yang pemaaf adalah harapan bagi setiap orang yang menjalani kehidupan rumah tangga. Manusia tempatnya salah dan khilaf. Memiliki seseorang yang pemaaf dan menerima kekurangan kita adalah pasangan ideal. Hati seorang guru seluas samudera, jangankan kesalahan siswa, dimarahi kamu saja kami maafkan!

6.      Sarjana keguruan suka belajar

Berdiskusi dengan orang yang memiliki wawasan luas lebih seru dan mengasyikkan. Banyak hal yang dapat didiskusikan soal rencana masa depan. Sarjana keguruan adalah orang-orang yang selalu memiliki motivasi untuk belajar  dan gampang beradapatasi terhadap perubahan. Apalagi belajar tentang menjadi ibu dari anak-anak kamu! J


Sumber: Pixabay


Memiliki karir sebagai guru dan mengabdi di dunia pendidikan adalah salah satu pilihan dari banyak profesi yang baik dan mempunyai nilai di tengah masyarakat. Bagi Kami, sarjana keguruan, selain mengabdi kepada masyarakat kami juga dituntut menjadi pribadi yang baik dan menjadi teladan di masyarakat. Menjadi guru sejatinya bukan beban, guru adalah pelita bagi kegelapan di tengah derasnya gempuran budaya negatif. Guru ibarat salah satu kompasnya. 

Meskipun penilaian ini bersifat subjektif tetapi hal yang paling penting adalah mengenal “siapa” dengan baik calon jodoh kita.



Semoga tuisan ini sedikit memotivasi!

0 komentar:

Usia 10 tahun, siswa masuk fase pubertas. Guru jangan cuek!

4/26/2019 Yusmira Yunus 8 Comments

     Sumber: pixabay


Orang tua pasti bahagia melihat  tumbuh kembang anak-anaknya. Seorang ibu hampir setiap jam dalam sehari mengamati perubahan fisik dan psikis bagi anak-anak mereka, Ibu adalah orang yang kali pertama mengetahui bahwa anak perempuannya sudah mengalami tanda-tanda pubertas. Ibu pula yang akan tersenyum geli melihat anak lelakinya mulai melemparkan senyum manis ke lawan jenisnya dengan sorotan mata yang malu-malu.

Pepatah WITA mengatakan “ Mending menjaga 1000 kerbau dibandingkan menjaga seorang anak gadis”. Pepatah ini menjadi pesan baik bagi para orang tua bahwa ada masa di mana anak-anak harus diberi pengawasan ekstra tetapi tidak mengekang.

Di masa pubertas inilah hati setiap ibu rasanya kembang kempis, di satu sisi bahagia karena anak mungilnya yang lucu dan menggemaskan  mulai tumbuh menjadi remaja yang mandiri dan bertanggung jawab. Di sisi lain, ibu menaruh kekhawatiran akan perilaku yang menyimpang di saat pubertas akibat pengaruh lingkungan sekitar.

Di jejang sekolah dasar, umur 10-12 tahun, siswa yang duduk di kelas lima dan enam SD sudah mengalami tanda-tanda awal mengalami perubahan fisik dan psikis, istilahnya disebut pubertas. Guru yang peduli terhadap perubahan tersebut selalu mengamati perilaku siswa-siswanya yang mengalami perubahan fisik dan kebiasan baru. Ini adalah sinyal baik bagi guru, apalagi materi tentang pubertas mulai diperkenalkan di kelas enam SD, tentu dengan konsekuensi kelas akan riuh-gaduh dengan serbuan cekikikan malu-malu dan tawa lepas dari para siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

Di sinilah diharapkan keterampilan mengajar seorang guru dalam menjelaskan materi, jujur tapi tidak vulgar. Tujuan materi yang tersampaikan dengan detail adalah bagian penting tahapan edukasi pendidikan seks (maaf). Siswa akan memilih secara sadar bahwa apa yang terjadi pada perubahan fisiknya adalah proses alam dan dialami oleh semua orang baik laki-laki maupun perempuan.


    sumber: pixabay
Membesarnya ukuran pinggul, paha, dan lengan, bertambahnya berat badan, mulai tumbuh rambut halus di sekitar kemaluan, mulai jerawatan, dada membesar, menstruasi, dan mulai bau badan adalah tanda hormon progesteron mulai bekerja lebih aktif,  bahwa anak perempuan memasuki fase pubertas. Satu lagi, hal yang paling dirahasiakan oleh mereka adalah ketika mulai mengamati dan menyukai lawan jenis secara diam-diam.

Bagi laki-laki, pubertas ditandai dengan bertambahnya berat badan dengan cepat, bahu bertambah lebar, lengan bertambah kekar. Di semester dua saat siswa di kelas enam, beberapa anak laki-laki sudah menunjukkan perubahan  tersebut, suara mulai nge-bass, parfum sudah masuk daftar wajib isi tas mereka, dan mulai mengamati lawan jenis apalagi memberi perhatian khusus.

Guru dan orang tua tentu mengamati perubahan ini pada anak-anaknya. Susah-susah gampang memberi tahu anak-anak bahwa kalian sudah remaja. Hal ini dikarenakan remaja biasanya sudah mampu mengambil keputusan sendiri, lebih memilih mendengar saran dan masukan teman-temannya  ketimbang orang yang lebih dewasa dan orang tua. 


    Sumber: pixabay
Orang tua wajib membuka diri dan berusaha tegas. Sayangnya, menurut penelitian orang tua cenderung cuek dan menghindar jika diajak diskusi soal seksualitas oleh anak-anak mereka, bahkan beberapa orang tua tidak membuka diskusi dan membiarkan anak-anaknya berkembang dan mempelajari semuanya sendiri.

Lalu sebagai guru dan orang tua, saran apa yang baik untuk dijalankan? Berikut beberapa saran yang baik, dijadi pengingat di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia.

Pertama, Orang tua adalah pendidik.

Anak-anak adalah titipan Tuhan yang Maha Kuasa, anak adalah karunia yang tak ternilai harganya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan baik, mendekatkan mereka dengan ajaran agama, dan memberi serta menciptakan lingkungan yang positif.

Kedua, orang tua sebagai pendamping.

Sebagai pendamping dan teman, orang tua wajib menjelaskan secara detail apa akibat jika melanggar aturan agama, kesusilaan dan aturan lainnya. Anak diharapkan melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya sendiri. Biasakan ajak anak jalan berdua, beritahulah tanpa menggurui sehingga anak merasa nyaman dan terbuka kepada orang tua.

Ketiga, orang tua sebagai team supervisi

Cara pandang remaja terhadap pendidikan seks  biasanya dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekitar dan bahkan media sosial.  Dewasa ini media sosial bahkan mengambil peran tersebut lebih banyak. Anak-anak cenderung lebih mudah mencari informasi seputar pendidikan seks lewat internet dibanding bertanya atau diskusi dengan orang tua mereka. Di sinilah peran orang tua sebagai team supervisi, guna mengevaluasi sejauh mana pemahaman dan ajaran agama telah terinternalisasi ke dalam sikap dan prinsip mereka menjalani masa remaja.

Terakhir, saya sebagai guru dan orang tua, menulis artikel singkat ini sebagai bahan evaluasi bagi diri saya sendiri, tiap tahun memiliki 30an anak didik dengan segala keluguannya, ditambah dua anak gadis kecil dengan segala kelucuannya. Semoga kelak mereka para siswaku dan anak-anakku menjadi remaja yang positif dan membanggakan guru dan orang tua. Aamiin. 

Semoga artikel singkat ini bermanfaat.

8 komentar:

Literasi Sains Guru Literat: Rumah Hijau Denassa Membersamai SGI Sul-Sel

3/25/2019 Yusmira Yunus 0 Comments


Memasuki area Rumah Hijau Denassa, seketika menarik memoriku ke layar ceria di masa kecil 20 tahun lalu, halaman depan rumah literasi ini hampir sama dengan suasana rumah nenek kami di Desa Waekecce'e Kabupaten Bone, pepohonan mengepung rumah nenek,sama seperti lingkungan ini.

Rumah hijau Denassa berada di Kabupaten Gowa tepatnya di pasar Bontonompo belok kanan, tidak jauh dari situ sekitar 50 meter, sebuah plang  kecil menuliskan rumah literasi, Rumah Hijau Denassa.

Menuju lokasi ini, membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari perbatasan Makassar-Gowa, jika star dari rumah saya di Antang Raya, sepertinya menghabiskan waktu sekitar  2 jam inklud dengan iklan mampir beli pulsa dan beli beberapa cemilan sebagai bekal perut di pagi hari.

Pagi tadi saya diantar suami, kami star pukul 07.30 dan sampai di titik bertemu teman-teman SGI di Halte Unismuh. Alhamdulillah, kurang dari 15 menit Bus yang mengangkut teman-teman SGI sudah parkir di depan Halte. Saya bergegas mengangkat tas dan siap-siap berangkat.

Bus pun melaju santai dengan kecepatan 40 km/jam melewati beberapa lampu merah dan kumpulan-kumpulan kecil kemacetan sebagai ciri khas sebuah kota besar.


Ini kali pertama saya ke sini, Rumah Hijau Denassa hanya sering saya temui di Media Sosial Facebook, meskipun sering meninggalkan komentar di pemilik akun Denassa, sebagai salah satu cara agar bisa berkomunikasi dengan beliau, akhirnya, dengan kegiatan di SGI ini saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan owner Rumah Hijau Denassa, semoga ke depan bisa sharing dan bekerjasama mengembangkan literasi anak di Sulawesi Selatan Khususnya Makassar- Gowa.

Menu sehat sederhana telah dihidangkan di deretan daun pisang bertutupkan satu persatu daun jati, nasi, ikan kering, tahu tumis, sayur tumis kangkung, kerang rebus dan cobe'-cobe' sudah terasa menggoda perut yang setengah kelaparan. 

Saya dan beberapa teman sudah duduk rapi depan hidangan siap untuk menyantap, satu satu teman menuju arah tempat makan dengan semangat, berdoa bersama, lalu sibuklag kami semua makan bersama sambil bercengkerama. 

Makanannya enak, dan berisi, rebusan kerang menambah porsi protein yang harus dipenuhi kebutuhan gizi tubuh.

Setelah sholat dhuhur, kami diarahkan berkumpul di area kekayaan hayati untuk mengenal tentang jenis-jenis tanaman yang wajib di lestarikan. 

Ini kali pertama saya melihat langsung buah Tiin, buah yang sering disebutkan dalam Alquran. Bentuk buahnya seperti tomat, hijau muda dan rantingnya menjuntai ke bawah dari batang Utaman. Ternyata bentuk pohonnya unik sekali, seunik pengetahuan bahwa puting dan benang sarinya ada di dalam buah, maka itulah buah tiin masih disebut buah ajaib karena bisa berbuah tanpa berbunga.

Setelah itu, Denassa mengarahkan kami ke arah kiri, sekitar 4 meter terlihat akar besar yang melilit bagai ular kecil yang sedang berusaha membunuh mangsanya, itu pohon tuba. Masih ingat peribahasa " air susu dibalas air tuba?"

Daun tuba meghasilkan getah, daunnya kecil memanjang mirip anak rumput gaja, jika daunnya diperas akan menghasilkan getah berwarna hitam yang sangat pahit. Seorang teman guru bertanya, apakah ini dapat digunakan untuk menghentikan penyapain anak saat disusui? Denassa, menjawab " iya! Karena rasanya akan pahit."

Berbalik arah menuju lorong depan samping rumah, tampak disudut rimbunan pohon bune yang sedang asyik bermesraan dan bermekaran, bijinya kecil dan berwarna pink bercampur kemerahan.


Denassa terus menjelaskan aneka ragam hayati yang ada di sekeliling area tempat tinggalnya, saya serius menyimak dan memperhatikan mimik Denassa dan sesekali menyisipkan candaan agar suasana lebih santai dan akrab.

Dan yang kembali membuatku mengangguk adalah cicak terbang. Ternyata cicak terbang senang tinggal di area ini, di pohon Bayur. Saya tak sempat melihatnya, tapi teman berhasil mengintip cicak terbang itu, mungkin dia malu sehingga tidak menunjukkan kemampuan terbangnya pada kami. 

Pengalaman berkeliling di area Rumah hijau denassa, luar biasa. Banyak pengalaman yang dapat saya bagikan ke siswa besok, termasuk bagaimana teknik menanam benih padi di sawah tadi siang. 

Sekarang menunjukkan pukul 15.00, ini adalah sesi terakhir dari kegiatan Guru Literat SGI Sul-Sel, kami ditugaskan membuat narasi singkat atau semacam reportase tentang kegiatan pagi tadi hingga sore ini. 

Begitulah, banyak kesan yang bisa saya tuliskan di sini. Satu kata berkesan dari Rumah Hijau Denassa adalah TERMOTIVASI. 

0 komentar:

Anak Transmigrasi: Sekolah Tumpuan Asa

2/06/2019 Yusmira Yunus 14 Comments


Melihat sekolah ini, saya teringat film berjudul "Jembatan Pensil" yang diperankan oleh Ondeng dan kawan-kawannya, rilis 2017 lalu yang dibintangi Kevin Julio. Anak-anak dengan semangat tinggi berangkat dan pulang sekolah melewati jembatan rapuh untuk menuju sekolah yang terletak di pinggir pantai. Ondeng seorang anak dengan keterbatasan mental sangat peduli dengan kawan-kawannya sampai harus membagi pensil menjadi lima bagian agar teman-temannya dapat menggambar. Sekolah dengan segala keterbatasannya memiliki seorang guru. Film ini membangkitkan empati dan simpati bagi masyarakat luas, terutama guru seperti saya.  Saya sampai sesunggukan menonton film ini. Saya betul-betul terharu.

Dari film ini saya belajar bahwa ada banyak anak-anak di luar sana, jauh dari perkotaan, pasokan listrik yang terbatas, juga memiliki impian yang sama dengan kita di sini, memiliki impian yang sama dengan anak-anak kita di sini, di kota-kota besar dengan segala kemudahannya. Mereka butuh perhatian dan kepedulian. Anak- anak kecil dengan segala keluguannya.

Satu-satunya cara untuk menemukan batasan  dalam hidup adalah dengan melangkah melebihi batasan yang Anda sebut dengan "tidak mungkin". The only way discover the limits of possible is to go beyond them into the "impossible". 
[Artur C. Clarke]

Desa transmigrasi? Sekolah transmigrasi?
Apa yang dapat kita bayangkan dengan desa-desa tersebut?

Keheningan malam mulai pecah dengan suara tik tok telepon, anak-anak berkumpul di rumah ronda membaca buku usang diterangi lampu 10 watt, suara jengkrik dan hewan malam lainnya masih sangat bersahabat. Siang, jalan berdebu. Hujan akan becek, licin dan rusak. Rute yang berliku, menyusuri sungai lalu masuk hutan, melewati pematang sawah, tebing dan sesekali rasa takut menyeruak dalam hati. Jauh dari keluarga. Jika bukan semangat mengabdi mungkin tidak ada lagi guru dengan ikhlas mengajar di sana, daerah transmigrasi. Jika bukan rindu dengan keluguan anak-anak transmigrasi, sebagian sahabat-sahabat kami (guru) mungkin sudah kalah lalu pulang. Tetapi selalu ada guru yang berhati malaikat seperti mereka yang memilih bertahan lalu betah. Mungkin saya harus banyak belajar bagaimana mereka bekerja dengan hati yang penuh. 


Sekolah-sekolah di daerah transmigrasi ibarat sulau bagi mereka, sekolah adalah ruang belajar, ruang menimbah ilmu pengetahuan, ibarat tirai jendela yang mengantar siswa melihat keluar rumah, melihat perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi di sekitarnya. Lalu guru sebagai jembatannya.

Sekolah transmigrasi bagi anak-anak Indonesia yang memutuskan tinggal di sana adalah bagian hidup terpenting buat mereka. Sekolah adalah hal yang begitu menarik apalagi guru-gurunya. 

Guru-guru di daerah transmigrasi adalah guru luar biasa, dia lah guru yang sebenarnya, dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, merek tetap menjaga Marwah dan semangat mendidik mereka di kelas. Meskipun proses belajar mengajar sangat sederhana, tetapi mereka mengajar berbasis lingkungan, memanfaatkan apa yang disekitar sebagai pembelajaran. 

Salut buat guru-guru di daerah transmigrasi. Semoga keikhlasan bapak ibu mengajar di sana di manapun berada,  diberikan hadiah luar biasa oleh Allah SWT untuk kehidupan mereka dan anak-anak mereka. 

Salam hangat dari saya, guru di kota,  yang belajar bagaimana menemukan makna hidup dalam keramaian hiruk pikuk yang kadang-kadang memekikkan telinga dan mengaburkan hati. 








Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa Kelas Tinggi

1/28/2019 Yusmira Yunus 1 Comments

Kemampuan literasi pada kelas tinggi merupakan tantangan tersendiri bagi guru-guru yang mengajar di kelas empat sampai enam sekolah dasar. Masih adanya siswa dalam setiap tahun ajaran baru di semester pertama yang kurang mampu memahami isi bacaan, akibatnya ketika diberi tugas dasar untuk menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan isi bacaan, siswa bingung dan memberikan jawaban yang sangat berbeda dengan tujuan jawaban soal yang diberikan. Pertanyaan ke kanan, jawabannya kekiri. Dak nyambung! (Sambil geleng-geleng kepala)

Jelas, saya tidak boleh menarik kesimpulan bahwa siswa-siswa saya memang bodoh, atau menarik kesimpulan tidak adil lainnya sebelum saya melakukan observasi dan pengamatan tugas-tugas. Saya perlu melakukan serangkaian pretest kepada siswa untuk mengetahui kemampuan literasi mereka. Salah satunya dengan memberi pertanyaan (gampang) yang sekarang diistilahkan sebagai soal LOTS (Low Order Thinking Skill). Mencari jawaban yang tepat berdasarkan isi bacaan yang ditandai dengan kata tanya: Apa pengertian, di mana, apa, kapan, tuliskan contoh, sebutkan  contoh, dan semua pertanyaan yang mengarah pada kemampuan ingatan siswa.



Baca juga: Pembelajaran Level HOTS dan Assesment Dalam Penerapan K13

Literasi secara garis besar diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami bacaan, erat berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, kata literasi diartikan sebagai kemampuan sesorang untuk mengakses berbagai informasi, dapat membedakan informasi yang bermanfaat atau tidak, serta mengarahkan  seseorang untuk memahami pesan yang disediakan dalam bernagai bentuk seperti narasi, visual, audio, diagram dan lain-lainnya.

Menurut KBBI, literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.

Menurut Kemdikbud, kegiatan literasi tidak hanya mencakup membaca dan menulis tetapi ditambah dengan keterampilan mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali. Ini yang kemudian disajikan dalam kurikulum 2013 (K13) pada buku siswa utamanya di kelas tinggi. Bahkan dengan Kompetensi dasar yang berulang pada tema-tema selanjutnya.

Literasi sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21Tahun 2015 Tentang peningkatan dan penumbuhan Budi Pekerti. Salah satunya adalah penerapan membaca "Bukan Pelajaran" di 15 menit pertama sebelum memasuki kegiatan inti. Membaca 'Bukanpelajaran" ini dapat diarakan sebagai apersepsi dalam kegiatan awal pembelajaran.



Apa penyebab kemampuan  litersi siswa masih rendah?

Penyebab kemampuan literasi siswa masih rendah, diantaranya:
  1. Guru memiliki minat baca rendah
  2. Buku-buku yang tersedia di sekolah adalah buku-buku pelajaran saja,sehingga siswa kurang tertarik membacanya di waktu luang.
  3. Minimnya buku-buku sastra di perpustakaan
  4. Sarana dan prasarana perpustkaan yang kurang memadai
  5. Kemampuan  guru dalam menerapkan keterampilan literasi siswa masih rendah.
Dengan kemampuan literasi yang disadari masih rendah, sebaiknya guru mengasah kemampuannya sendiri untuk meningkatkan penggetahuan dan keterampilan tentang literasi. Kadang-kadang membedakan bahan bacaan fiksi dan nonfiksi saja masih abu-abu, apalagi mencoba membuat cerita pendek terlebih menulis artikel ringan. Menulis artikel ini pun sebagai satu upaya menambah keterampilan literasi saya, meskipun hasilnya jauh dari sempurna. Membuat pembaca mengerti apa yang saya tulis itu sebuah kesenangan tersendiri. 

"Lalu, adakah program yang dapat kami duplikasi di kelas?" Tanyaku pada sahabat yang mengajar di sekolah swasta terakreditasi A. Saya tahu tenaga pendidiknya pun sangat kompeten

"Membuat sudut baca, bisa! Kemarin kelas saya yang juara tentang penyediaan bahan bacaan di kelas" Jawabnya sambil menyuguhkan  teh hangat dan sepiring ubi goreng.

"Selain itu, apalagi yang dapat saya lakukan?" tanyaku kembali, sambil mengutak atik laptopnya. Berharap menemukan file tentang literasi. (senyum)

Perbincangan pagi itu, membuat saya merasa perlu membuat sudut baca dikelas, ya, awal semester adalah rencana saya membuat sudut baca, mengumpulkan buku-buku cerita anak, dongeng anak, dan komik sudah saya lakukan, terkumpul 20-an buku anak di lemari. Lalu kubuatkan jadwal membaca siswa di waktu luangnya. Ternyata rencana itu tidak berjalan mulus. Lalu buku hanya mengendap di lemari. Ternyata untuk membuat sudut baca saja perlu kerjasama semua warga kelas dan orangtua siswa. Pemeliharaan buku yang perlu diperhatikan.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa kelas tinggi: 
  1. Mendorong siswa untuk membeli buku tema anak sebulan sekali.
  2. Dalam proses pembelajaran di kelas; koran, majalah dan komik dapat digunakan sebagai media pembelajaran utamanya dalam mengidentifikasi ide pokok dan membuat contoh iklan.
  3. Menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk membaca, dengan instruksi maupun memberi contoh. Guru dapat membaca buku di depan siswa saat jam istirahat beberapa menit.
  4. Membuat pajangan kelas atau display dua dimensi berisi slogan tentang manfaat membaca.
  5. Mengundang "guru tamu" untuk berbagi ide menulis di depan siswa, kelas kami pernah kedatangan penulis buku remaja dan wartawan untuk berbagai tips menulis tiga tahun yang lalu.
  6. Bekerjasama dengan lembaga-lembaga nirlaba atau komunitas menulis untuk memberi penguatan kepada siswa di kelas tinggi. Lemina (Lembaga Ibu dan Anak) adalah komunitas yang selama lima tahun mendampingi literasi siswa kelas 4 di sekolah kami. 
Membaca mempunyai seribu manfaat. Mempunyai wawasan yang luas identik dengan profesi guru. Di kelas guru adalah fasilitator, bagaimana bisa guru dapat menfasilitasi siswa belajar sementara guru kurang bahan. 

Semoga tulisan ini bermanfaat!

1 komentar:

Trik Memilih Model Pembelajaran Direct Instruction pada Kurikulum 2013

1/16/2019 Yusmira Yunus 0 Comments


Ini, tulisan lanjutan tentang pelatihan soal level HOTS yang telah saya bahas pada tulisan sebelumnya, saya terpikirkan penyataan  Prof. DR. Nurdin Arsyad, M.Pd, guru besar UNM Makassar, bahwa proses belajar pada kurikulum 2013 adalah menganut teori belajar konstruktivisme. Saya penasaran.

Saya membuat tulisan ini dengan maksud untuk membelajarkan diri saya sendiri, memberi penguatan pada penghayatan bahwa apa yang selama ini saya lakukan di kelas masih menganut teori behavioristik atau istilah gampangnya adalah proses belajar yang masih berpusat pada guru, diri saya sendiri, sebagai satu-satunya sumber belajar. Meskipun saya percaya bahwa ada banyak sumber belajar di sekitar kita, tetapi tanpa membuat langkah nyata di dalam proses pembelajaran. 

Maafkan saya, Nak! Emoticon nangis. 

Ini refleksi! Jujur pada diri sendiri jauh lebih baik daripada melakukan hal keliru dari hari ke hari di dalam kelas selama bertahun-tahun. Sampai pensiun.




Teori Belajar Konstruktivisme


Teori belajar Konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan yang kita pahami merupakan hasil konstruksi kita sendiri (Von Glaserfel dalam Pannen dkk, 2001: 3). Sebagai acuan atau landasan pemikiran bahwa siswa perlu mengembangkan sendiri pengetahuannya  dengan cara partisipasi aktif dalam pembelajaran. 

Teori belajar konstruktivisme juga didefinisikan sebagai pembelajaran yang generatif, yaitu suatu perbuatan yang menghasilkan suatu makna dari apa yang telah dipelajari. Berbeda dengan teori belajar Behavioristik yang menekankan bahwa proses belajar adalah sesuatu yang mekanik, diajarkan oleh guru tanpa mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki seorang siswa atau kelompok belajar.

Sama halnya teori konstruktivisme pertama yang diperkenalkan oleh JenPiaget (Dahar, 1989: 159) menjelaskan bahwa teori konstruktivisme adalah proses menemukan teori atau pengetahuan baru yang dibangun dari kondisi faktual di lapangan. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, atau ibarat dalam sebuah diskusi kelas, guru sebagai seorang moderator yang fasih. 

Masih ingat qoute yang sempat populer di masanya,yakni SETENGAH ISI SETENGAH KOSONG, saya mencoba meminjam quote ini sebagai perumpamaan isi pemikiran siswa yang setengah isi setengah kosong. Setengah isi karena siswa telah memiliki pengetahuan dasar dari lingkungan dan setengahnya lagi diisi oleh guru lewat penguatan-penguatan pengetahuan yang diberikan sebagai hasil pengamatan pada lingkungan sekitar.

Singkatnya, teori KONSTUKTIVISME berpusat pada siswa sebagai subjek  pembelajar, guru hanya moderator/fasilitator. Sedangkan pada teori BEHAVIORISTIK berpusat pada guru, siswa adalah objek pembelajaran. 

Saya yakin atas dasar inilah mengapa dirancang suatu kurikulum yang kita sebut dengan kurikulum 2013 (K13), kurikulum yang dirancang agar proses pembelajaran di kelas adalahh pembelajaran konstruktivisme. Teori inilah yang menjadi dasar model pembelajaran inquiry, Discovery,   Problem Basic Learning sebagai model pembelajaran yang sangat disarankan pada kurikulum tersebut. 



Lalu, apa hubungannya dengan Direct Instruction ?

Metode ceramah adalah kata kunci dari strategi pembelajaran Direct Instruction, itu yang terekam di memori saya sejak kuliah di jurusan Diploma dua PGSD UNM tahun 2004. Semoga saya keliru, karena metode ini adalah metode yang sering membuat saya terkantuk-kantuk ketika dosen menjelaskan panjang lebar tanpa jedah, dan akhirnya saya memilih ke kantin membeli minuman dingin agar kembali segar ditengah diskusi. 

Direct Instruction itu strategi pembelajaran yang menekankan pada penguasan dan pemahaman suatu konsep dengan menggunakan pendekatan deduktif dengan ciri-ciri:
  1. Transfer informasi/keterampilan dilakukan secara langsung.
  2. Disebutkan dengan jelas tujuan pembelajaran
  3. Disebutkan dengan jelas langkah-langkah atau struktur materi pembelajaran
  4. Guru berperan sebagai penyampai informasi, baik secara prosedur atau deklaratif. 
  5. Guru menggunakan media pembelajaran sesuai tujuan pembalajaran (disarankan)
Bagi ibu yang memiliki anak usia balita, tentu sering dibuat  kagum ketika seorang anak mampu mengikuti ucapannya dalam menghafal surah-surah pendek dengan metode gerak. Anak -anak menjadi pandai menari dan bernyanyi jika tontonan itu yang sering mereka lihat atau duplikasi. Masih teringat ketika anak-anak belajar berbicara dengan mengulang-ulang kata orang di sekitanya. Belajar mengosok gigi dengan benar sampai cara makan yang baik. 

Para ahli pendidikan penganut pemodelan tingkah laku meyakini bahwa suatu tingkah laku dapat ditiru apabila siswa atau pengamat secara sadar mengamati tingkah laku yang ingin dipelajarinya. Apabila siswa tahu apa yang dipelajarinya, maka akan mudah mengikuti langkah-langkah yang diajarkan oleh guru dalam sebuah praktikum. Misalnya.

Pembelajaran direct Instruction merupakan strategi pembelajaran yang menekankan peniruan tingkah laku yang dilakukan oleh siswa. Langkah-langkah pembelajaran yang jelas. Dalam pembelajaran ini guru memegang peranan sebanyak mungkin dalam membimbing, melatih dan mengharapkan umpan balik dari siswa. Lalu memberi tugas. 

Dari hasil pemaparan diatas, maka strategi pembalajaran Direct Intruction adalah hasil dari suatu penerapan  teori peniruan tingkah laku yang sering disebut dengan teori Behavioristik. 

Kurikulum 2013 yang dirancang sebagai hasil dari teori Konstruktivisme dianggap sebagai kurikulum yang tidak lagi memberi ruang yang banyak kepada teori behavioristik. Tetapi dengan kesenjangan bahwa masih dibutuhkannya materi materi yang membutuhkan intruksi langsung seorang guru membuat strategi Direct Learning ini masih menjadi model pembelajaran favorit. 

Semoga tulisan ini bermanfaat!


Referensi:

https://dirinyachapunk.wordpress.com/2011/12/22/model-pembelajaran-konstruktivisme/
http://magister-pendidikan.blogspot.com/p/teori-konstruktivistik.html
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/01/27/model-pembelajaran-langsung/

0 komentar:

Pembelajaran Level HOTS dan Asesment Dalam Penerapan K13

1/15/2019 Yusmira Yunus 1 Comments

Saya sengaja menuliskan judul artikel ini sesuai dengan judul pelatihan, Minggu, dua hari yang lalu di Hotel Dinasti, yang diselenggarakan oleh PGRI Kota Makassar. Pelatihan ini adalah pelatihan yang memberi bekal kepada guru seputar pemahaman dan cara berpikir tentang  proses belajar dan penilaian yang berbasis HOTS.


Apa itu HOTS pada proses belajar?

HOTS adalah singkatan dari Higher Order Thinking Skill. Suatu istilah yang mewakili cara pikir tentang analisa ,evalusai dan daya cipta yang merupakan bagian terpenting dari Taksonomi Bloom, yang wajib guru-guru pahami dan terapkan berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa di kelas masing-masing. Atau dengan kata lain, HOTS adalah soal-soal yang disajikan lebih sulit dari soal yang mengukur ingatan dan pemahaman seorang siswa.

Kata Prof. DR. Nurdin Arsyad, M.Pd, guru besar UNM Makassar, dengan hangat beliau menjelaskan dan menekankan bahwa Level HOTS tidak hanya diterapkan pada akhir pembelajaran tetapi harus terintegrasi ke dalam proses pembelajaran. Guru harus mahir meramu suatu cara belajar dengan menggunakan model-model pembelajaran yang merangsang kegiatan siswa dikelas untuk melatih siswa berpikir lebih kritisberdasarkan konsep dan data faktual.

Beliau memberikan contoh pada soal Matematika kelas rendah, bahwa guru dapat membuat soal dengan cara menuliskan langsung sebuah hasil dari proses penjumlahan,dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berkreasi cara mendapatkan hasil penjumlahan tersebut.

Contoh:
Tentukan nilai dari titik-titik di bawah ini!
 ...+....+....= 10  atau  ....+ 4= 15
Bukan dengan cara, berapa hasil dari 2+3=....

Contoh diatas akan merangsang siswa berpikir, bahwa angka berapa yang digunakan untuk mendapatkan hasil 10. Tentu akan sangat bervariasi jawaban siswa. Beliau juga memaparkan  bahwa pada soal level HOTS guru jangan terpaku pada kubci jawaban, tetapi harus melihat daya kreatifitas siswa dalam menjawab dan melihat korelasinya dengan konsep dan faktual tadi.

Agar mudah diingat, berikut kesimpulan tentang alur berpikir pada tingkatan HOTS,yaitu:
1.Transfer satu konsep ke konsep lainnya
2.Memprosesdan menerapkan informasi
3.Mencari kaitan dari berbagai informasi yangberbeda-beda
4.Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
5.Menelaah Ide dan Informasi secara kritis

Lalu bagaimana memilih dan membuat soal Level HOTS?

Dalam membuat evaluasi pada akhir proses pembelajaran, guru harus paham betul apa yang akan mereka ajarkan dan bentuk tes apa yang akan digunakan untuk mengukur pemahaman dan keterampilan siswa pada Kompetensi Dasar yang akan dicapai. Untuk mengukur KI.3, sudah tersetting dalam pikiran guru bahwa ini adalah kumpulan KD yang mengukur pengetahuan dan pemahaman siswa, yang diberi batasan pada taksonomi Bloom itu C1 (Mengingat/Recall), C2 (Pemahaman), dan C3 (Aplikasi/Penerapan). Sedangkan untuk mengukur KI.4, guru diharapkan membuat soal yang memperhatikan kata kunci pada C4 (Analisa), C5 (Evaluasi) dan C6 (Membuat/mencipta).



Untuk membuat soal yang mengukur pengetahuan, dapat digunakan soal pilihan ganda, isian, dan esay singkat. Tidak mungkin soal pilihan ganda digunakan untuk mengukur keterampilan seorang siswa. Instrumen  yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa adalah instrumen proses yang akan dituangkan dalam rublik penilaian proses atau instumen tes dengan kejelasan kriteria yang akan dinilai.

Nah, agar soal yang dibuat memenuhi syarat Level HOTS, saya menangkap pesan bahwa soal itu harus menstimulus siswa membandingkan konsep satu dengan konsep lainnya, membandingan fakta satu dengan konsep dan atau fakta dengan fakta lalu ditarik sebuahkesimpulan yang logis, dapat diterima oleh akal sehat. 

Soal HOTS umumnya disajikan kedalam bentuk bahan bacaan, seperti paragraf, teks drama, penggalan cerpen/novel, puisi, kasus, gambar, foto, rumus, tabel, bagan, atau rekaman, lalu data-data tersebut akan dipadankan dengan kata-kata kunci pada tabel Taksonomi Bloom, yaitu pada C4, C5, atau di C6-kan.


Semoga bermanfaat! 

1 komentar:

Teknik Membuat Komik Pembelajaran

1/11/2019 Yusmira Yunus 6 Comments



Sebenarnya, guru akan bosan, apalagi siswa, jika memilih metode belajar yang itu-itu saja.

Metode favorit bagi sebagian guru, ceramah, tanya jawab lalu memberi tugas pertanyaan yang diharapkan dapat dijawab dengan tepat, diperiksa, input nilai lalu bell pun berdering. SELESAI!

Tidak ada yang salah dengan metode tersebut, setiap guru akan tahu mana materi yang cocok dengan metode ceramah  mana yang tidak, mengenali karakteristik mata pelajaran akan sangat membantu guru dalam memilih metode dan teknik belajar yang lebih menyenangkan bagi siswa. Untuk itu, saya terus belajar mempelajari gaya belajar siswa dari hari ke hari, apakah gaya belajar siswa tersebut visual, audiotori, dan kinestetik yang disingkat dengan istilah VAK. Memang tidak ada siswa yang memiliki ciri kuat dari satu gaya belajar, yang ada hanya gabungan dari kedua gaya belajar atau lebih. 


Siswa pembelajar auditori adalah siswa yang belajar dengan mudah ketika mendengar seseorang berbicara atau menjelaskan, mereka akan lebih fokus jika guru memiliki suara yang lantang dan jelas disertai mimik yang menyenangkan. Atau dorong mereka belajar dengan mendengarkan rekaman atau musik.

Bagi siswa pembelajar visual, akan lebih mudah bagi siswa memahami pelajaran jika disajikan bahan belajar berupa gambar, diagram, atlas,  video atau film, pokoknya mereka akan sangat antusias belajar segala sesuatu yangberhubungan dengan komputer dan animasi.

Pembelajar kinestetik adalah siswa yang menunjukkan kecenderungan untuk terus bergerak, lincah dan tidak bisa diam lebih lama di tempat duduknya. Siswa dengan pembelajar kinestetik memiliki kelebihan akan sangat hebat BERCERITA tetapi lemah pada segala sesuatu yang berhubungan dengan TULISAN laporan percobaan dan membuat cerita pendek tiga paragraf. 

Mengamati bahwa kebanyakan siswa saya adalah pembelajar kinestetik visual maka saya mencoba mengasah kemampuan mereka dalam membuat komik pembelajaran sebagai cara lain agar siswa yang tidak pandai membuat laporan atau menulis cerita singkat, akan lebih menyenangi proses menulis.



Apa itu Komik?


Komik adalah seni menulis yang dilengkapi dengan gambar-gambar sebagai penguatan yang disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah cerita yang utuh untuk menyampaikan pesan baik bagi seseorang atau masyarakat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KKBI), komik adalah suatu cerita bergambar yang sifatnya mudah dicerna dan lucu.

Lalu, bagaimana teknik membuat komik dalam pembelajaran?

Dalam membuat komik pembelajaran, berikut teknik atau langkah-langkahnya:

1. Tentukan materi apa yang akan dibuatkan komik.

2. Bersama siswa diskusikan/ tentukan karakter apa yang akan mereka gunakan, lengkap dengan latar suasana/tempat dan waktu.

3. Tunjukkan contoh beberapa komik hasil karya teman-temannya tahun lalu

4. Gunakan pensil untuk menggambar objek yang kita inginkan, sehingga mudah dihapus jika ada perbaikan. 

5. Gambar dan tulislah percakapan pendek dari karakter yang diinginkan.



Membuat komik memang tidak mudah, siswa yang memiliki bakat dan terus berlatih, akan menemukan jalannya sendiri. Kita seringkali dibuat kagum dengan hasil karya siswa yang bagus dan diluar dugaan. Banyak dari kita menjudge siswa bahwa mereka tidak bisa membuat komik, ini susah, gambar mereka jelek, tarikan garisnya terlalu kasar dan tak terbentuk. Tapi tak apalah sebagai awal yang baik daripada tidak ada hasil sama sekali di buku gambarnya. 

Komik pembelajaran hanya satu dari banyak teknik menulis kreatif yang mendorong kesukaan siswa pembelajar kinestetik dalam menulis. Guru tidak boleh mati ide, teruslah bergerak dan berpikir bahwa setiap siswa itu unik dan istimewa.

Siswa memiliki bakatnya sendiri!

Semoga bermanfaat! 



6 komentar:

Mobile Legends, Kartu Media Belajar Alternatif!

1/09/2019 Yusmira Yunus 3 Comments


Menemukan banyak siswa bermain kartu di teras kelas, adalah pemandangan yang mengasikkan bagi guru, betapa siswa sangat menikmati jam-jam istirahat mereka dengan sesuatu yang mereka senangi. Ada yang bersantai duduk sambil mencicipi es krim, berlarian dan bercerita santai. Saya sering penasaran melihat siswa yang sedang asyik bermain kartu di depan kelas, ternyata kartu mobile legend tetap menjadi idola bagi mereka. 

"Bagaimana menggunakan kartu mobile legend itu?" kataku ke siswa.
"Dengan di ces-ces-kan Bu, siapa yang tertutup kartunya, dia kalah, kartu yang tertutup itu akan diambil oleh yang menang, sebagai kemenangan." jawab siswa.

Mikir...

Kumintalah beberapa kartu siswa, ada yang kaget, memajang ekspresi lesuh  dan kecewa, lalu duduk bersandar di tempok teras kelas lantai dua. Saya tersenyum,mengumpulkan beberapa kartu dan pergi meninggalkan mereka dengan senyum kecil.

Bell kelas berdering! Pelajaran Matematika di BAB 1 Tentang Kubus dan Balok dimulai di jam pertama tiap hari Selasa.



Taraaaa,...

Inilah hasil jarahan saya, hhehehe...bukan, ini bukan jarahan, ini saya gunakan sebagai media belajar untuk mengenalkan kembali atau merefresh kembali ingatan siswa tentang sifat dan ciri-ciri kubus dan balok memasuki materi inti tentang keterampilan mencari volume kubus dan balok. Menurut wikipedia, media belajar adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menjadi perantara antara pengetahuan itu sendiri dengan siswa, dengan tujuan untuk menajamkan pemahaman konsep dasar tentang suatu materi sehinggga dapat menuntun siswa ke ranah pemikiran yang lebih ilmiah. 

Di banyak buku pendidikan dan seminar tentang media belajar atau pembelajaran, menjelaskan bahwa belajar yanng sesungguhnya adalah belajar dengan menghadirkan kondisi sebenarnya/konkrit ke dalam kelas, bukan mengajak siswa menghayal dan menari-nari di atas awan. Sering disebut dengan pembelajaran kontekstual.  


Pada proses pembelajaran kontekstual, diharapkan siswa mengalami sendiri, menemukan sendiri dan mencatat sendiri pola pola/ kesimpulan-kesimpulan yang mereka temukan. Sama halnya seperti mencari jumlah sisi, rusuk dan titik sudut sebuah bangun ruang. Siswa menemukan sendiri bahwa ada 6 sisi yang sama besar pada sebuah kubus dengan menyusun dan membongkar kartu mobile legend tersebut, dan pada balok menemukan bahwa ada sepasang sisi yang selalu sama besar. Ada 8 titik sudut dan 12 rusuk. 

Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dengan fakta, para ahli sepakat tentang ini. Untuk  itu diperlukan media belajar karena setiap anak,setiap siswa mempunyai tingkatan proses belajar yang berbeda-beda yang akan menyesuaikan pada situasi belajar yang diciptakan oleh guru.




Ketika siswa memahami konsep dasar sebuah bangun ruang, pemikiran mereka akan lebih muda mencerna konsep konsep pada tingkatan selanjutnya. Maka lebih mudahlah kita, guru mengajarkan siswa tentang cara menghitung volume tanpa bekerja keras menyuruh siswa menghafal rumus volume kubus  dan balok.

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi referensi sebagai pengantar pada awal penanaman konsep dasar matematika pada kubus dan balok. Mengajak guru bahwa media belajar itu tidak harus selalu disediakan sekolah dan mahal, media belajar yang baik adalah media belajar yang murah, mudah dimodifikasi dan banyak ditemukan  disekitar kita.

GURU JANGAN MATI AKAL, TIBA MASA TIBA AKAL JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MENGAJAK SISWA BERHAYAL.


Semoga bermanfaat!

3 komentar: