Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa Kelas Tinggi

1/28/2019 Yusmira Yunus 1 Comments

Kemampuan literasi pada kelas tinggi merupakan tantangan tersendiri bagi guru-guru yang mengajar di kelas empat sampai enam sekolah dasar. Masih adanya siswa dalam setiap tahun ajaran baru di semester pertama yang kurang mampu memahami isi bacaan, akibatnya ketika diberi tugas dasar untuk menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan isi bacaan, siswa bingung dan memberikan jawaban yang sangat berbeda dengan tujuan jawaban soal yang diberikan. Pertanyaan ke kanan, jawabannya kekiri. Dak nyambung! (Sambil geleng-geleng kepala)

Jelas, saya tidak boleh menarik kesimpulan bahwa siswa-siswa saya memang bodoh, atau menarik kesimpulan tidak adil lainnya sebelum saya melakukan observasi dan pengamatan tugas-tugas. Saya perlu melakukan serangkaian pretest kepada siswa untuk mengetahui kemampuan literasi mereka. Salah satunya dengan memberi pertanyaan (gampang) yang sekarang diistilahkan sebagai soal LOTS (Low Order Thinking Skill). Mencari jawaban yang tepat berdasarkan isi bacaan yang ditandai dengan kata tanya: Apa pengertian, di mana, apa, kapan, tuliskan contoh, sebutkan  contoh, dan semua pertanyaan yang mengarah pada kemampuan ingatan siswa.



Baca juga: Pembelajaran Level HOTS dan Assesment Dalam Penerapan K13

Literasi secara garis besar diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami bacaan, erat berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, kata literasi diartikan sebagai kemampuan sesorang untuk mengakses berbagai informasi, dapat membedakan informasi yang bermanfaat atau tidak, serta mengarahkan  seseorang untuk memahami pesan yang disediakan dalam bernagai bentuk seperti narasi, visual, audio, diagram dan lain-lainnya.

Menurut KBBI, literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.

Menurut Kemdikbud, kegiatan literasi tidak hanya mencakup membaca dan menulis tetapi ditambah dengan keterampilan mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali. Ini yang kemudian disajikan dalam kurikulum 2013 (K13) pada buku siswa utamanya di kelas tinggi. Bahkan dengan Kompetensi dasar yang berulang pada tema-tema selanjutnya.

Literasi sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21Tahun 2015 Tentang peningkatan dan penumbuhan Budi Pekerti. Salah satunya adalah penerapan membaca "Bukan Pelajaran" di 15 menit pertama sebelum memasuki kegiatan inti. Membaca 'Bukanpelajaran" ini dapat diarakan sebagai apersepsi dalam kegiatan awal pembelajaran.



Apa penyebab kemampuan  litersi siswa masih rendah?

Penyebab kemampuan literasi siswa masih rendah, diantaranya:
  1. Guru memiliki minat baca rendah
  2. Buku-buku yang tersedia di sekolah adalah buku-buku pelajaran saja,sehingga siswa kurang tertarik membacanya di waktu luang.
  3. Minimnya buku-buku sastra di perpustakaan
  4. Sarana dan prasarana perpustkaan yang kurang memadai
  5. Kemampuan  guru dalam menerapkan keterampilan literasi siswa masih rendah.
Dengan kemampuan literasi yang disadari masih rendah, sebaiknya guru mengasah kemampuannya sendiri untuk meningkatkan penggetahuan dan keterampilan tentang literasi. Kadang-kadang membedakan bahan bacaan fiksi dan nonfiksi saja masih abu-abu, apalagi mencoba membuat cerita pendek terlebih menulis artikel ringan. Menulis artikel ini pun sebagai satu upaya menambah keterampilan literasi saya, meskipun hasilnya jauh dari sempurna. Membuat pembaca mengerti apa yang saya tulis itu sebuah kesenangan tersendiri. 

"Lalu, adakah program yang dapat kami duplikasi di kelas?" Tanyaku pada sahabat yang mengajar di sekolah swasta terakreditasi A. Saya tahu tenaga pendidiknya pun sangat kompeten

"Membuat sudut baca, bisa! Kemarin kelas saya yang juara tentang penyediaan bahan bacaan di kelas" Jawabnya sambil menyuguhkan  teh hangat dan sepiring ubi goreng.

"Selain itu, apalagi yang dapat saya lakukan?" tanyaku kembali, sambil mengutak atik laptopnya. Berharap menemukan file tentang literasi. (senyum)

Perbincangan pagi itu, membuat saya merasa perlu membuat sudut baca dikelas, ya, awal semester adalah rencana saya membuat sudut baca, mengumpulkan buku-buku cerita anak, dongeng anak, dan komik sudah saya lakukan, terkumpul 20-an buku anak di lemari. Lalu kubuatkan jadwal membaca siswa di waktu luangnya. Ternyata rencana itu tidak berjalan mulus. Lalu buku hanya mengendap di lemari. Ternyata untuk membuat sudut baca saja perlu kerjasama semua warga kelas dan orangtua siswa. Pemeliharaan buku yang perlu diperhatikan.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa kelas tinggi: 
  1. Mendorong siswa untuk membeli buku tema anak sebulan sekali.
  2. Dalam proses pembelajaran di kelas; koran, majalah dan komik dapat digunakan sebagai media pembelajaran utamanya dalam mengidentifikasi ide pokok dan membuat contoh iklan.
  3. Menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk membaca, dengan instruksi maupun memberi contoh. Guru dapat membaca buku di depan siswa saat jam istirahat beberapa menit.
  4. Membuat pajangan kelas atau display dua dimensi berisi slogan tentang manfaat membaca.
  5. Mengundang "guru tamu" untuk berbagi ide menulis di depan siswa, kelas kami pernah kedatangan penulis buku remaja dan wartawan untuk berbagai tips menulis tiga tahun yang lalu.
  6. Bekerjasama dengan lembaga-lembaga nirlaba atau komunitas menulis untuk memberi penguatan kepada siswa di kelas tinggi. Lemina (Lembaga Ibu dan Anak) adalah komunitas yang selama lima tahun mendampingi literasi siswa kelas 4 di sekolah kami. 
Membaca mempunyai seribu manfaat. Mempunyai wawasan yang luas identik dengan profesi guru. Di kelas guru adalah fasilitator, bagaimana bisa guru dapat menfasilitasi siswa belajar sementara guru kurang bahan. 

Semoga tulisan ini bermanfaat!

1 komentar:

Trik Memilih Model Pembelajaran Direct Instruction pada Kurikulum 2013

1/16/2019 Yusmira Yunus 0 Comments


Ini, tulisan lanjutan tentang pelatihan soal level HOTS yang telah saya bahas pada tulisan sebelumnya, saya terpikirkan penyataan  Prof. DR. Nurdin Arsyad, M.Pd, guru besar UNM Makassar, bahwa proses belajar pada kurikulum 2013 adalah menganut teori belajar konstruktivisme. Saya penasaran.

Saya membuat tulisan ini dengan maksud untuk membelajarkan diri saya sendiri, memberi penguatan pada penghayatan bahwa apa yang selama ini saya lakukan di kelas masih menganut teori behavioristik atau istilah gampangnya adalah proses belajar yang masih berpusat pada guru, diri saya sendiri, sebagai satu-satunya sumber belajar. Meskipun saya percaya bahwa ada banyak sumber belajar di sekitar kita, tetapi tanpa membuat langkah nyata di dalam proses pembelajaran. 

Maafkan saya, Nak! Emoticon nangis. 

Ini refleksi! Jujur pada diri sendiri jauh lebih baik daripada melakukan hal keliru dari hari ke hari di dalam kelas selama bertahun-tahun. Sampai pensiun.




Teori Belajar Konstruktivisme


Teori belajar Konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan yang kita pahami merupakan hasil konstruksi kita sendiri (Von Glaserfel dalam Pannen dkk, 2001: 3). Sebagai acuan atau landasan pemikiran bahwa siswa perlu mengembangkan sendiri pengetahuannya  dengan cara partisipasi aktif dalam pembelajaran. 

Teori belajar konstruktivisme juga didefinisikan sebagai pembelajaran yang generatif, yaitu suatu perbuatan yang menghasilkan suatu makna dari apa yang telah dipelajari. Berbeda dengan teori belajar Behavioristik yang menekankan bahwa proses belajar adalah sesuatu yang mekanik, diajarkan oleh guru tanpa mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki seorang siswa atau kelompok belajar.

Sama halnya teori konstruktivisme pertama yang diperkenalkan oleh JenPiaget (Dahar, 1989: 159) menjelaskan bahwa teori konstruktivisme adalah proses menemukan teori atau pengetahuan baru yang dibangun dari kondisi faktual di lapangan. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, atau ibarat dalam sebuah diskusi kelas, guru sebagai seorang moderator yang fasih. 

Masih ingat qoute yang sempat populer di masanya,yakni SETENGAH ISI SETENGAH KOSONG, saya mencoba meminjam quote ini sebagai perumpamaan isi pemikiran siswa yang setengah isi setengah kosong. Setengah isi karena siswa telah memiliki pengetahuan dasar dari lingkungan dan setengahnya lagi diisi oleh guru lewat penguatan-penguatan pengetahuan yang diberikan sebagai hasil pengamatan pada lingkungan sekitar.

Singkatnya, teori KONSTUKTIVISME berpusat pada siswa sebagai subjek  pembelajar, guru hanya moderator/fasilitator. Sedangkan pada teori BEHAVIORISTIK berpusat pada guru, siswa adalah objek pembelajaran. 

Saya yakin atas dasar inilah mengapa dirancang suatu kurikulum yang kita sebut dengan kurikulum 2013 (K13), kurikulum yang dirancang agar proses pembelajaran di kelas adalahh pembelajaran konstruktivisme. Teori inilah yang menjadi dasar model pembelajaran inquiry, Discovery,   Problem Basic Learning sebagai model pembelajaran yang sangat disarankan pada kurikulum tersebut. 



Lalu, apa hubungannya dengan Direct Instruction ?

Metode ceramah adalah kata kunci dari strategi pembelajaran Direct Instruction, itu yang terekam di memori saya sejak kuliah di jurusan Diploma dua PGSD UNM tahun 2004. Semoga saya keliru, karena metode ini adalah metode yang sering membuat saya terkantuk-kantuk ketika dosen menjelaskan panjang lebar tanpa jedah, dan akhirnya saya memilih ke kantin membeli minuman dingin agar kembali segar ditengah diskusi. 

Direct Instruction itu strategi pembelajaran yang menekankan pada penguasan dan pemahaman suatu konsep dengan menggunakan pendekatan deduktif dengan ciri-ciri:
  1. Transfer informasi/keterampilan dilakukan secara langsung.
  2. Disebutkan dengan jelas tujuan pembelajaran
  3. Disebutkan dengan jelas langkah-langkah atau struktur materi pembelajaran
  4. Guru berperan sebagai penyampai informasi, baik secara prosedur atau deklaratif. 
  5. Guru menggunakan media pembelajaran sesuai tujuan pembalajaran (disarankan)
Bagi ibu yang memiliki anak usia balita, tentu sering dibuat  kagum ketika seorang anak mampu mengikuti ucapannya dalam menghafal surah-surah pendek dengan metode gerak. Anak -anak menjadi pandai menari dan bernyanyi jika tontonan itu yang sering mereka lihat atau duplikasi. Masih teringat ketika anak-anak belajar berbicara dengan mengulang-ulang kata orang di sekitanya. Belajar mengosok gigi dengan benar sampai cara makan yang baik. 

Para ahli pendidikan penganut pemodelan tingkah laku meyakini bahwa suatu tingkah laku dapat ditiru apabila siswa atau pengamat secara sadar mengamati tingkah laku yang ingin dipelajarinya. Apabila siswa tahu apa yang dipelajarinya, maka akan mudah mengikuti langkah-langkah yang diajarkan oleh guru dalam sebuah praktikum. Misalnya.

Pembelajaran direct Instruction merupakan strategi pembelajaran yang menekankan peniruan tingkah laku yang dilakukan oleh siswa. Langkah-langkah pembelajaran yang jelas. Dalam pembelajaran ini guru memegang peranan sebanyak mungkin dalam membimbing, melatih dan mengharapkan umpan balik dari siswa. Lalu memberi tugas. 

Dari hasil pemaparan diatas, maka strategi pembalajaran Direct Intruction adalah hasil dari suatu penerapan  teori peniruan tingkah laku yang sering disebut dengan teori Behavioristik. 

Kurikulum 2013 yang dirancang sebagai hasil dari teori Konstruktivisme dianggap sebagai kurikulum yang tidak lagi memberi ruang yang banyak kepada teori behavioristik. Tetapi dengan kesenjangan bahwa masih dibutuhkannya materi materi yang membutuhkan intruksi langsung seorang guru membuat strategi Direct Learning ini masih menjadi model pembelajaran favorit. 

Semoga tulisan ini bermanfaat!


Referensi:

https://dirinyachapunk.wordpress.com/2011/12/22/model-pembelajaran-konstruktivisme/
http://magister-pendidikan.blogspot.com/p/teori-konstruktivistik.html
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/01/27/model-pembelajaran-langsung/

0 komentar:

Pembelajaran Level HOTS dan Asesment Dalam Penerapan K13

1/15/2019 Yusmira Yunus 1 Comments

Saya sengaja menuliskan judul artikel ini sesuai dengan judul pelatihan, Minggu, dua hari yang lalu di Hotel Dinasti, yang diselenggarakan oleh PGRI Kota Makassar. Pelatihan ini adalah pelatihan yang memberi bekal kepada guru seputar pemahaman dan cara berpikir tentang  proses belajar dan penilaian yang berbasis HOTS.


Apa itu HOTS pada proses belajar?

HOTS adalah singkatan dari Higher Order Thinking Skill. Suatu istilah yang mewakili cara pikir tentang analisa ,evalusai dan daya cipta yang merupakan bagian terpenting dari Taksonomi Bloom, yang wajib guru-guru pahami dan terapkan berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa di kelas masing-masing. Atau dengan kata lain, HOTS adalah soal-soal yang disajikan lebih sulit dari soal yang mengukur ingatan dan pemahaman seorang siswa.

Kata Prof. DR. Nurdin Arsyad, M.Pd, guru besar UNM Makassar, dengan hangat beliau menjelaskan dan menekankan bahwa Level HOTS tidak hanya diterapkan pada akhir pembelajaran tetapi harus terintegrasi ke dalam proses pembelajaran. Guru harus mahir meramu suatu cara belajar dengan menggunakan model-model pembelajaran yang merangsang kegiatan siswa dikelas untuk melatih siswa berpikir lebih kritisberdasarkan konsep dan data faktual.

Beliau memberikan contoh pada soal Matematika kelas rendah, bahwa guru dapat membuat soal dengan cara menuliskan langsung sebuah hasil dari proses penjumlahan,dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berkreasi cara mendapatkan hasil penjumlahan tersebut.

Contoh:
Tentukan nilai dari titik-titik di bawah ini!
 ...+....+....= 10  atau  ....+ 4= 15
Bukan dengan cara, berapa hasil dari 2+3=....

Contoh diatas akan merangsang siswa berpikir, bahwa angka berapa yang digunakan untuk mendapatkan hasil 10. Tentu akan sangat bervariasi jawaban siswa. Beliau juga memaparkan  bahwa pada soal level HOTS guru jangan terpaku pada kubci jawaban, tetapi harus melihat daya kreatifitas siswa dalam menjawab dan melihat korelasinya dengan konsep dan faktual tadi.

Agar mudah diingat, berikut kesimpulan tentang alur berpikir pada tingkatan HOTS,yaitu:
1.Transfer satu konsep ke konsep lainnya
2.Memprosesdan menerapkan informasi
3.Mencari kaitan dari berbagai informasi yangberbeda-beda
4.Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
5.Menelaah Ide dan Informasi secara kritis

Lalu bagaimana memilih dan membuat soal Level HOTS?

Dalam membuat evaluasi pada akhir proses pembelajaran, guru harus paham betul apa yang akan mereka ajarkan dan bentuk tes apa yang akan digunakan untuk mengukur pemahaman dan keterampilan siswa pada Kompetensi Dasar yang akan dicapai. Untuk mengukur KI.3, sudah tersetting dalam pikiran guru bahwa ini adalah kumpulan KD yang mengukur pengetahuan dan pemahaman siswa, yang diberi batasan pada taksonomi Bloom itu C1 (Mengingat/Recall), C2 (Pemahaman), dan C3 (Aplikasi/Penerapan). Sedangkan untuk mengukur KI.4, guru diharapkan membuat soal yang memperhatikan kata kunci pada C4 (Analisa), C5 (Evaluasi) dan C6 (Membuat/mencipta).



Untuk membuat soal yang mengukur pengetahuan, dapat digunakan soal pilihan ganda, isian, dan esay singkat. Tidak mungkin soal pilihan ganda digunakan untuk mengukur keterampilan seorang siswa. Instrumen  yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa adalah instrumen proses yang akan dituangkan dalam rublik penilaian proses atau instumen tes dengan kejelasan kriteria yang akan dinilai.

Nah, agar soal yang dibuat memenuhi syarat Level HOTS, saya menangkap pesan bahwa soal itu harus menstimulus siswa membandingkan konsep satu dengan konsep lainnya, membandingan fakta satu dengan konsep dan atau fakta dengan fakta lalu ditarik sebuahkesimpulan yang logis, dapat diterima oleh akal sehat. 

Soal HOTS umumnya disajikan kedalam bentuk bahan bacaan, seperti paragraf, teks drama, penggalan cerpen/novel, puisi, kasus, gambar, foto, rumus, tabel, bagan, atau rekaman, lalu data-data tersebut akan dipadankan dengan kata-kata kunci pada tabel Taksonomi Bloom, yaitu pada C4, C5, atau di C6-kan.


Semoga bermanfaat! 

1 komentar:

Teknik Membuat Komik Pembelajaran

1/11/2019 Yusmira Yunus 6 Comments



Sebenarnya, guru akan bosan, apalagi siswa, jika memilih metode belajar yang itu-itu saja.

Metode favorit bagi sebagian guru, ceramah, tanya jawab lalu memberi tugas pertanyaan yang diharapkan dapat dijawab dengan tepat, diperiksa, input nilai lalu bell pun berdering. SELESAI!

Tidak ada yang salah dengan metode tersebut, setiap guru akan tahu mana materi yang cocok dengan metode ceramah  mana yang tidak, mengenali karakteristik mata pelajaran akan sangat membantu guru dalam memilih metode dan teknik belajar yang lebih menyenangkan bagi siswa. Untuk itu, saya terus belajar mempelajari gaya belajar siswa dari hari ke hari, apakah gaya belajar siswa tersebut visual, audiotori, dan kinestetik yang disingkat dengan istilah VAK. Memang tidak ada siswa yang memiliki ciri kuat dari satu gaya belajar, yang ada hanya gabungan dari kedua gaya belajar atau lebih. 


Siswa pembelajar auditori adalah siswa yang belajar dengan mudah ketika mendengar seseorang berbicara atau menjelaskan, mereka akan lebih fokus jika guru memiliki suara yang lantang dan jelas disertai mimik yang menyenangkan. Atau dorong mereka belajar dengan mendengarkan rekaman atau musik.

Bagi siswa pembelajar visual, akan lebih mudah bagi siswa memahami pelajaran jika disajikan bahan belajar berupa gambar, diagram, atlas,  video atau film, pokoknya mereka akan sangat antusias belajar segala sesuatu yangberhubungan dengan komputer dan animasi.

Pembelajar kinestetik adalah siswa yang menunjukkan kecenderungan untuk terus bergerak, lincah dan tidak bisa diam lebih lama di tempat duduknya. Siswa dengan pembelajar kinestetik memiliki kelebihan akan sangat hebat BERCERITA tetapi lemah pada segala sesuatu yang berhubungan dengan TULISAN laporan percobaan dan membuat cerita pendek tiga paragraf. 

Mengamati bahwa kebanyakan siswa saya adalah pembelajar kinestetik visual maka saya mencoba mengasah kemampuan mereka dalam membuat komik pembelajaran sebagai cara lain agar siswa yang tidak pandai membuat laporan atau menulis cerita singkat, akan lebih menyenangi proses menulis.



Apa itu Komik?


Komik adalah seni menulis yang dilengkapi dengan gambar-gambar sebagai penguatan yang disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah cerita yang utuh untuk menyampaikan pesan baik bagi seseorang atau masyarakat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KKBI), komik adalah suatu cerita bergambar yang sifatnya mudah dicerna dan lucu.

Lalu, bagaimana teknik membuat komik dalam pembelajaran?

Dalam membuat komik pembelajaran, berikut teknik atau langkah-langkahnya:

1. Tentukan materi apa yang akan dibuatkan komik.

2. Bersama siswa diskusikan/ tentukan karakter apa yang akan mereka gunakan, lengkap dengan latar suasana/tempat dan waktu.

3. Tunjukkan contoh beberapa komik hasil karya teman-temannya tahun lalu

4. Gunakan pensil untuk menggambar objek yang kita inginkan, sehingga mudah dihapus jika ada perbaikan. 

5. Gambar dan tulislah percakapan pendek dari karakter yang diinginkan.



Membuat komik memang tidak mudah, siswa yang memiliki bakat dan terus berlatih, akan menemukan jalannya sendiri. Kita seringkali dibuat kagum dengan hasil karya siswa yang bagus dan diluar dugaan. Banyak dari kita menjudge siswa bahwa mereka tidak bisa membuat komik, ini susah, gambar mereka jelek, tarikan garisnya terlalu kasar dan tak terbentuk. Tapi tak apalah sebagai awal yang baik daripada tidak ada hasil sama sekali di buku gambarnya. 

Komik pembelajaran hanya satu dari banyak teknik menulis kreatif yang mendorong kesukaan siswa pembelajar kinestetik dalam menulis. Guru tidak boleh mati ide, teruslah bergerak dan berpikir bahwa setiap siswa itu unik dan istimewa.

Siswa memiliki bakatnya sendiri!

Semoga bermanfaat! 



6 komentar:

Mobile Legends, Kartu Media Belajar Alternatif!

1/09/2019 Yusmira Yunus 3 Comments


Menemukan banyak siswa bermain kartu di teras kelas, adalah pemandangan yang mengasikkan bagi guru, betapa siswa sangat menikmati jam-jam istirahat mereka dengan sesuatu yang mereka senangi. Ada yang bersantai duduk sambil mencicipi es krim, berlarian dan bercerita santai. Saya sering penasaran melihat siswa yang sedang asyik bermain kartu di depan kelas, ternyata kartu mobile legend tetap menjadi idola bagi mereka. 

"Bagaimana menggunakan kartu mobile legend itu?" kataku ke siswa.
"Dengan di ces-ces-kan Bu, siapa yang tertutup kartunya, dia kalah, kartu yang tertutup itu akan diambil oleh yang menang, sebagai kemenangan." jawab siswa.

Mikir...

Kumintalah beberapa kartu siswa, ada yang kaget, memajang ekspresi lesuh  dan kecewa, lalu duduk bersandar di tempok teras kelas lantai dua. Saya tersenyum,mengumpulkan beberapa kartu dan pergi meninggalkan mereka dengan senyum kecil.

Bell kelas berdering! Pelajaran Matematika di BAB 1 Tentang Kubus dan Balok dimulai di jam pertama tiap hari Selasa.



Taraaaa,...

Inilah hasil jarahan saya, hhehehe...bukan, ini bukan jarahan, ini saya gunakan sebagai media belajar untuk mengenalkan kembali atau merefresh kembali ingatan siswa tentang sifat dan ciri-ciri kubus dan balok memasuki materi inti tentang keterampilan mencari volume kubus dan balok. Menurut wikipedia, media belajar adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menjadi perantara antara pengetahuan itu sendiri dengan siswa, dengan tujuan untuk menajamkan pemahaman konsep dasar tentang suatu materi sehinggga dapat menuntun siswa ke ranah pemikiran yang lebih ilmiah. 

Di banyak buku pendidikan dan seminar tentang media belajar atau pembelajaran, menjelaskan bahwa belajar yanng sesungguhnya adalah belajar dengan menghadirkan kondisi sebenarnya/konkrit ke dalam kelas, bukan mengajak siswa menghayal dan menari-nari di atas awan. Sering disebut dengan pembelajaran kontekstual.  


Pada proses pembelajaran kontekstual, diharapkan siswa mengalami sendiri, menemukan sendiri dan mencatat sendiri pola pola/ kesimpulan-kesimpulan yang mereka temukan. Sama halnya seperti mencari jumlah sisi, rusuk dan titik sudut sebuah bangun ruang. Siswa menemukan sendiri bahwa ada 6 sisi yang sama besar pada sebuah kubus dengan menyusun dan membongkar kartu mobile legend tersebut, dan pada balok menemukan bahwa ada sepasang sisi yang selalu sama besar. Ada 8 titik sudut dan 12 rusuk. 

Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dengan fakta, para ahli sepakat tentang ini. Untuk  itu diperlukan media belajar karena setiap anak,setiap siswa mempunyai tingkatan proses belajar yang berbeda-beda yang akan menyesuaikan pada situasi belajar yang diciptakan oleh guru.




Ketika siswa memahami konsep dasar sebuah bangun ruang, pemikiran mereka akan lebih muda mencerna konsep konsep pada tingkatan selanjutnya. Maka lebih mudahlah kita, guru mengajarkan siswa tentang cara menghitung volume tanpa bekerja keras menyuruh siswa menghafal rumus volume kubus  dan balok.

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi referensi sebagai pengantar pada awal penanaman konsep dasar matematika pada kubus dan balok. Mengajak guru bahwa media belajar itu tidak harus selalu disediakan sekolah dan mahal, media belajar yang baik adalah media belajar yang murah, mudah dimodifikasi dan banyak ditemukan  disekitar kita.

GURU JANGAN MATI AKAL, TIBA MASA TIBA AKAL JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MENGAJAK SISWA BERHAYAL.


Semoga bermanfaat!

3 komentar:

LDR-an yang bikin Happy!

1/05/2019 Yusmira Yunus 0 Comments

Alhamdulillah,segala puji bagi Tuhan memberi kita umur sampai detik ini, semoga kebaikan kita tahun 2019 bertambah dari tahun sebelumnya. Aamiin.

Saya memulai tulisan ini dengan doa bersama, harapan baik dan visi pernikahan yang patut di contoh adalah pernikahan yang langgeng sampai kakek nenek. Itu harapan bagi setiap yang menikah. Yuk, kita ingat sekilas memori kita saat pernikahan? Cieee....ada yang senyum senyum sendiri. Hem, hem.
Bahagia dong Mom, akhirnya kita menjadi tulang rusuk pelengkap The King (baca:suami). Menikah itu pasti adayang baik-baiknya adapula yang buruk buruknya, namanya saja menyatukan dua makhluk yang tidak saling kenal sebelumnya, banyak banget kan yang harus disesuaikan,kayak blog ini. hihi...

Lalu, Bagaimana jika pernikahan harus ditempuh dengan rumus LDR-an,atau bahasa inggrisnya Long Distance Relationship. Ini namanya galau tingkat dewi, apalagi pengantin baru,menikah dengan orang pulau seberang, terhalang kerjaan dan tugas, harus lanjut sekolah keluar negeri atau mungkin harus tugas dengan cara yang berpindah-pindah. Memang sebagai perempuan harus memilikikesiapan mental yang kreatif, jangan galaunya yang kreatif tapi mentalnya. Saya punya beberapa sahabat yang memakai rumus ini, awalnya seh banyak bertengkarnya, lama-lama saya lihat fine-fine saja dan lebih banyak ide kreatif yang muncul dari Mom-mom LDRan dalam menjaga hubungan baik sepasang suami istri. Saya belum punya pengalaman LDRan yah Mom,tulisan ini adalah sharing carring beberapa teman. Dan sampai hari ini,saya belum siap LDRan, takut kalau saya lebih emosian dari sekarang. heheheh....



Ini mental baik sahabat-sahabat saya, salut, LDR lebih dari dua tahun, bahkan ada yang menjelang 10 tahun.

Berikut beberapa trik untuk menjaga hubungan baik suami istri yang LDR-an:

1. Perjelas misi dan visi pernikahan

 Pernikahan yang kuatadalah pernikahan yang memiliki misi dan visi yang dibuat bersama, bukan hanya salah satunnya. 

2. Menerima keadaan

Menerima keadaan memang  butuh waktu  dan jam terbang adaptasi pasangan suami istri. 
gunakan logika jika sesekali hati meraung, apa alasan kuat yang menjadikan harus berpisah begini. Temukan alasan kuat itu.

3. Rawat komunikasi. 

Komunikasi adalah senjata utama ketika LDRan, komunikasi yang sehat maksud saya, komunikasi yang hadir darirasa kasih sayang kepada pasangan, bukan komunikasi yang terpaksa demi menggugurkan kewajiban, atau sekedar terlihat sebagai orang yang bertanggung jawab, padahal hatinya ZONK! Sekarang jauh lebih gampang berbincang-bincang dengan istri, ada medsos, gak kayak dulu pakai suratyang tibanya bisa seminggu.

4. Komitmen

Maksud saya, sebagai orang yang beriman,komitmen ibarat tali kapal yang sangat kuat menjaga kapal agar tidak ketengah lautan tanpa arah. Begitulah sebuah komitmen, ini pegangan.

5. Saling Mengunjungi.

Habiskan waktu bersama saat cuti atau luangkan waktu untuk selalu bersama pasangan. Tetap Take Care, buka mata buka hati, jangan takut suami kepincut perempuan yang lain, bukankah Mom adalah perempuan yang hangat.

6. Tingkatkan rasa percaya diri dan pengetahuan
Lelaki rata-rata menyukai perempuan yang memiliki rasa percaya diri yang baik dan wawasan yang luas.

7. Selalu positif

Oke, Mom, inilah yang dapat saya share soal LDRan tahan lama tanpa selingkuh, semoga para perempuan menjadi wanita hebat dan ibu yang kuat bagi anak-anaknya.

Semoga bermanfaat!

Sumber: www.momketjeh.blogspot.com

0 komentar:

Bagi Emak,Tenun Sutera masih Memesona

1/05/2019 Yusmira Yunus 1 Comments

Saya termasuk penyuka sarung sutra, suka motifnya yang unik-unik dan warnanya yang cerah. Ini adalah salah satu kekayaaan budaya kita khususnya dari Sulawesi Selatan. Patut dipertahankan dan dilestarikan.

Mungkin alasan inilah yang menjadi visi kak Ida Sulawati di usaha tenun Aminah Akil silknya. Beliau termasuk pengusaha yang sukses di bidangnya. Patut di contoh dan diacungi jempol.

Saya belum sempat bertemu langsung dengan owner Aminah Akil silk, tetapi hasil tenun sarung sudah mewakili kehangatan beliau. Beliau menjadi salah satu sponsor di pertemuan KOPDAR IIDN Makassar tanggal 22 Desember 2018, lima hari yang lalu. Selain Shopie Paris dan Kamummu.

Motif LONTARAK, tidak hanya kita temui di prodak lokal kain batik Makassar tetapi di prodak tenun lokal Aminah Akil silk ini. Ini bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya lokal.

Ternyata, deras hujan dan kemacetan yang parah, tak menghalangi saya menuju hotel Edotel empunya SMK 6 Makassar, terima kasih kepada kepala sekolah SMK 6 yang telah meminjamkan ruangannya untuk pertemuan ibu ibu blogger ini.
Foto dengan memamerkan kain sutra kak Idapun saya jadikan foto profil di Facebook saya, bahkan ada beberapa orang yang berminat membeli.

Semoga Aminah Akil silk terus maju dan sukses mewakili Makassar go Internasional.

,
Sumber: www.momketjeh.blogspot.com

1 komentar:

Tujuh cara membujuk si kecil ke dokter gigi

1/05/2019 Yusmira Yunus 0 Comments

Mom, sejak dua minggu lalu saya sudah beberapa kali mengajak si kakak untuk ke dokter gigi, tapi selalu ditolak, alasannya takut dengan dokter karena ada jarum suntiknya.

"Ummi, gigiku tidak disuntikkan? Tanya si kakak dengan ekpresi ragu dan khawatir.
"Tidak! Jawabku pelan sambil mengelus rambut dan menatapnya ramah.
"Tapi, saya takut,ummi!"Keluhnya.

Ya, sudahlah, kudiamkan beberapa hari, lalu kemudian membujuknya kembali. Kemarin, si kakak akhirnya mau ke dokter gigi tanpa paksaan apapun.



Berikut tujuh cara membujuk anak agar mau ke dokter gigi dengan ikhlas:

1. Ketika Mom menemukan bahwa gigi susunya mulai goyang, itu signal bahwa si kakak sudah tumbuh besar, ucapkanlah terus menerus bahwa dengan tumbuhnya gigi baru berarti kakak sudah menjadi anak yang hebat,itu artinya kakak di sayang oleh Tuhan,karena diberi gigi baru.Ucapkan berulang-ulang, sampai kalimat itu bisa diulangnya kembali.

2. Ceritakan bahwa Mom juga selalu ke dokter gigi, tunjukkan bukti bahwa gigi Mom juga pernah dirawat dokter gigi.

3. Perlihatkan video-video anak pemberani yang sedang di dokter gigi.

4. Ajak diskusi, jika besar akan jadi apa? bukannya setiap harapan dan cita-cita anak akan lebih baik jika memilki gigi yang sehat dan bersih.

5. Dalam perjalanan pulang setealah menjemput si kakak dari sekolahan, sengajalah lewat depan klinik dokter gigi langganan, dan sebutkan nama dokter gigi yang paling ramah di klinik tersebut. Ceritakan kembali, bagaimana dokter akan mencabut giginya dengan sangat pelan tanpa rasa sakit.

6. Perkenalkan si kakak alat-alat yang akan digunakan saat proses pencabutan gigi lewat gambar, kalau perlu usahakan alat "mainan"itu sering dimainkan bersama adiknya.

7. Jika cara dari nomor satu sampai enam belum berhasil, bisa coba menyogoknya dengan es krim, atau mainan apapun yang dia sukai. tapi karena si kakak suka buku stiker, yah, ke toko bukulah kita tiga hari yang lalu

Oke, Mom, itulah beberapa cara yang bisa saya bagikan seputar membujuk anak ke dokter gigi. TENTU, tiap ibu akan memiliki cara yang berbeda-beda, tulisan ini hanya satu dari sekian banyak cara menbujuk anak ke klinik gigi, atau ke dokter gigi.

Semoga bermanfaat!

Sumber: www.momketjeh.blogspot.co


0 komentar:

Hadiah Tahun Baru di Kelas

1/05/2019 Yusmira Yunus 0 Comments

Sertifikasi?! (Catatan sambil kerja rapor)

Bulan Desember buat sebagian besar pegawai baik di negeri ataupun swasta, adalah bulan berkah, bagaimana tidak, di bulan inilah banyak perusahaan yang berbagi hasil dengan pegawainya yang sering disebut bonus, besarannya melebihi beberapa kali lipat gaji pokok yang diterima tiap bulan.
Lalu bagaimana dengan guru yang bersertifikasi?

Ya, bulan ini juga adalah bulan berkah buat guru bersertifikasi, ini adalah rejeki tambahan yang Allah SWT beri kepada yang membutuhkan. Penerimaan sertifikasi dua kali setahun, periode pertama maksimal sebelum tanggal 15 dibilang September dan di bulan ini, Desember. Begitu info yang saya dapatkan dari diskusi dengan pemangku kebijakan sertifikasi guru di BKN.

Lalu, apa korelasinya dengan upaya guru untuk meningkatkan kompetensinya?
Seperti kita ketahui, bahwa sertifikasi adalah sebuah kompensasi yang diberikan kepada guru bersertifikat kompeten sebagai tenaga pengajar yang profesional, tenaga profesional yang dibuktikan oleh sertifikat dengan puluhan tahun pengalaman mengajar berbekal pengetahuan dasar di bangku kuliah dan pelatihan mandiri yang dilakukan. Itu bagi guru dalam jabatan.

Alhamdulillah, sudah 10 tahun, para guru merasakan peningkatan kesejahteraan, wajar buat saya, para guru mendapatkan tambahan tunjangan ini, karena mental dan karakter anak bangsa dikuatkan oleh cara didikan mereka dilingkungan sekolah. Untuk itulah guru punya peran utama dalam penguatan karakter anak bangsa.

Tetapi dari banyak riset, dan dari diskusi diskusi online di grup belajar, dampak sertifikasi masih belum terasa di dunia pendidikan, jikapun ada perubahan, ada yang menduga ini tidak sebanding dengan pemberian sertifikasi bagi guru.

Guru, telah mereformasi dirinya sendiri, guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, seperti julukan guru sewaktu saya masih SD di tahun 90-an. Guru sekarang bukan lagi dengan julukan itu, tetapi guru sekarang adalah "guru milenial dengan banyak tanda jasa". Saya berkata demikian, karena dengan pemberian sertifikasi, ternyata menambah dan mengikat dengan sendirinya bagi guru itu sendiri untuk terus belajar dan menebalkan rasa malunya jika tidak mengembangkan diri baik secara profesional atau secara penguasaan pedagogis, serta peran serta dalam pengabdian di masyarakat. Ya, menebalkan rasa MALU-nya jika tidak menggunakan bonus itu untuk mengembangkan diri, demi profesi dan peserta didik.

Tahun ini, Alhamdulillah, rasa malu saya semakin menebal, jika saya lebih sering terlambat ke sekolah, lebih sering tidak lagi menyiapkan RPP sebelum mengajar, dan malu bertambah jika pengelolaan nilai tidak objektif.

Sertifikasi adalah sebuah komitmen pembaharuan mutu diri pribadi dan profesi, bukan berarti tanpa sertifikasi seorang guru tidak akan mengembangkan diri, tetapi ini adalah penguatan positif dalam memudahkan semua niat baik seorang guru.

Jangan iri pada guru, mereka adalah ruh pendidikan dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Guru pun manusia punya keluarga dan cita-cita. Bagaimana bisa guru bekerja dengan penuh tanggung jawab, sementara di rumah masih ada yang kekurangan, masih ada yang harus berutang untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Semua berproses, semua berikhtiar, Maha penentu hanya Dia semata.
10% saja buat pengembangan diri. MALU jika..

Sumber: www.momktjeh.blosgspot.com

0 komentar:

Jangan Paksa Anak Mahir Membaca Sebelum Masuk SD. Tips ini mungkin Membantu!

1/05/2019 Yusmira Yunus 0 Comments

Momketjeh- Memiliki anak dengan keterlambatan belajar adalah hal yang membuat ibu kebingungan, bahkan banyak diantara ibu memarahi anak jika sulit sekali mencerna materi pelajaran di rumah dan di sekolah. Cukup, ya, Mom! Menunjukkan perasaan kecewa dan kesal ke anak hanya membuat anak stres dan rendah diri.

Seorang ahli, Lyon (1996) mengatakan bahwa learning disability (kesulitan belajar) fokus pada kesenjangan antara prestasi akademik dan kapasitas kemampuan belajar anak. Contohnya pada anak dengan kesulitan membaca juga akan mengalami gangguan pemusatan perhatian pada tingkat tertentu.

Nama bekennya, Learning Disability, keadaan di mana anak mempunyai kesenjangan usia kematangan dengan usia mentalnya. Anak dengan kecerdasan rata-rata atau diatas rata-rata, kata ahli termasuk learning disability jika sekali lagi ada kesenjangan usia prestasi dengan prestasi saat ini. Bingung yah, Mom? Hehehe. Kita lanjut saja, Yuk!

Seorang ibu dengan empat orang anak, sengaja menyapa saya yang seorang guru di sekolah dasar ini untuk menanyakan keunikan anak sulungnya yang lambat membaca, usia kelas satu sekolah dasar. Pertanyaan selanjutnnya, apakah anak diwajibkan tahu membaca ketika memasuki usia sekolah?

Saya jawab pertanyaan terakhir lebih dulu, Secara aturan tertulis, tidak ada kewajiban seorang anak untuk lancar membaca ketika memasuki sekolah dasar. Jikapun ada, ini hanya CARA bagi sekolah untuk memetakan kompetensi anak, langkah ini membantu guru untuk memilih strategi pembelajaran yang yang cocok diterapkan dikelas. Semakin Mom, rajin mengarahkan anak untuk belajar membaca semakin Mom membantu guru secara emosional.

"Tapi,saya sibuk bekerja bu Yus, selalu pulang sore! Mungkin saya kurang menyediakan waktu untuk anak." Hal yang wajib guru maklumi. Tugas guru membantu para ibu kerja untuk sama-sama mengarahkan anak dengan baik, soal apakah anak cepat atau lambat merespon setiap pelajaran di kelas, serahkan ke proses dan sabar.

Mengatasi anak yang lambat membaca, menurut pengalaman, memang banyak dipengaruhi oleh pemusatan perhatian yang terpecah. Di rumah anak kebanyakan bermain dan memegang Handphone, ajaklah anak sering-sering beli buku di toko buku, kalaupun awalnya hanya mengintip mainan, belikanlah buku tiap bulan. Konsisten! Sebelum tidur, ajaklah mendengarkan dongeng, anak saya paling suka dongeng princes ane, buku cerita rosul yang agak tebal kurang diminati, anak-anak itu suka buku yang banyak gambarnya. 

Di sekolah, ajaklah gurunya berdiskusi, tanyakan kegiatan belajar yang dia lakukan di sekolah. Mom, jangan paksa anak cerdas dan rangking kelas,tiap anak memiliki keunikan sendiri, sabarlah melatihnya membaca, belikan kartu baca, masukkan dalam tasnya tiap hari. 

Proses belajar itu sama dengan proses belajar membaca, step step dan sabar, asal anak bisa pakai sepatu sendiri, saya pikir, anak Mom jauh lebih hebat, bukankah kemandirian yang utama!

Semoga bermanfaat!

Referensi: https://www.halopsikolog.com/4-pengertian-kesulitan-belajar-menurut-para-ahli/


Sumber: www.momketjeh.blogspot.com

0 komentar: