Trik Memilih Model Pembelajaran Direct Instruction pada Kurikulum 2013

1/16/2019 Yusmira Yunus 0 Comments


Ini, tulisan lanjutan tentang pelatihan soal level HOTS yang telah saya bahas pada tulisan sebelumnya, saya terpikirkan penyataan  Prof. DR. Nurdin Arsyad, M.Pd, guru besar UNM Makassar, bahwa proses belajar pada kurikulum 2013 adalah menganut teori belajar konstruktivisme. Saya penasaran.

Saya membuat tulisan ini dengan maksud untuk membelajarkan diri saya sendiri, memberi penguatan pada penghayatan bahwa apa yang selama ini saya lakukan di kelas masih menganut teori behavioristik atau istilah gampangnya adalah proses belajar yang masih berpusat pada guru, diri saya sendiri, sebagai satu-satunya sumber belajar. Meskipun saya percaya bahwa ada banyak sumber belajar di sekitar kita, tetapi tanpa membuat langkah nyata di dalam proses pembelajaran. 

Maafkan saya, Nak! Emoticon nangis. 

Ini refleksi! Jujur pada diri sendiri jauh lebih baik daripada melakukan hal keliru dari hari ke hari di dalam kelas selama bertahun-tahun. Sampai pensiun.




Teori Belajar Konstruktivisme


Teori belajar Konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan yang kita pahami merupakan hasil konstruksi kita sendiri (Von Glaserfel dalam Pannen dkk, 2001: 3). Sebagai acuan atau landasan pemikiran bahwa siswa perlu mengembangkan sendiri pengetahuannya  dengan cara partisipasi aktif dalam pembelajaran. 

Teori belajar konstruktivisme juga didefinisikan sebagai pembelajaran yang generatif, yaitu suatu perbuatan yang menghasilkan suatu makna dari apa yang telah dipelajari. Berbeda dengan teori belajar Behavioristik yang menekankan bahwa proses belajar adalah sesuatu yang mekanik, diajarkan oleh guru tanpa mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki seorang siswa atau kelompok belajar.

Sama halnya teori konstruktivisme pertama yang diperkenalkan oleh JenPiaget (Dahar, 1989: 159) menjelaskan bahwa teori konstruktivisme adalah proses menemukan teori atau pengetahuan baru yang dibangun dari kondisi faktual di lapangan. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, atau ibarat dalam sebuah diskusi kelas, guru sebagai seorang moderator yang fasih. 

Masih ingat qoute yang sempat populer di masanya,yakni SETENGAH ISI SETENGAH KOSONG, saya mencoba meminjam quote ini sebagai perumpamaan isi pemikiran siswa yang setengah isi setengah kosong. Setengah isi karena siswa telah memiliki pengetahuan dasar dari lingkungan dan setengahnya lagi diisi oleh guru lewat penguatan-penguatan pengetahuan yang diberikan sebagai hasil pengamatan pada lingkungan sekitar.

Singkatnya, teori KONSTUKTIVISME berpusat pada siswa sebagai subjek  pembelajar, guru hanya moderator/fasilitator. Sedangkan pada teori BEHAVIORISTIK berpusat pada guru, siswa adalah objek pembelajaran. 

Saya yakin atas dasar inilah mengapa dirancang suatu kurikulum yang kita sebut dengan kurikulum 2013 (K13), kurikulum yang dirancang agar proses pembelajaran di kelas adalahh pembelajaran konstruktivisme. Teori inilah yang menjadi dasar model pembelajaran inquiry, Discovery,   Problem Basic Learning sebagai model pembelajaran yang sangat disarankan pada kurikulum tersebut. 



Lalu, apa hubungannya dengan Direct Instruction ?

Metode ceramah adalah kata kunci dari strategi pembelajaran Direct Instruction, itu yang terekam di memori saya sejak kuliah di jurusan Diploma dua PGSD UNM tahun 2004. Semoga saya keliru, karena metode ini adalah metode yang sering membuat saya terkantuk-kantuk ketika dosen menjelaskan panjang lebar tanpa jedah, dan akhirnya saya memilih ke kantin membeli minuman dingin agar kembali segar ditengah diskusi. 

Direct Instruction itu strategi pembelajaran yang menekankan pada penguasan dan pemahaman suatu konsep dengan menggunakan pendekatan deduktif dengan ciri-ciri:
  1. Transfer informasi/keterampilan dilakukan secara langsung.
  2. Disebutkan dengan jelas tujuan pembelajaran
  3. Disebutkan dengan jelas langkah-langkah atau struktur materi pembelajaran
  4. Guru berperan sebagai penyampai informasi, baik secara prosedur atau deklaratif. 
  5. Guru menggunakan media pembelajaran sesuai tujuan pembalajaran (disarankan)
Bagi ibu yang memiliki anak usia balita, tentu sering dibuat  kagum ketika seorang anak mampu mengikuti ucapannya dalam menghafal surah-surah pendek dengan metode gerak. Anak -anak menjadi pandai menari dan bernyanyi jika tontonan itu yang sering mereka lihat atau duplikasi. Masih teringat ketika anak-anak belajar berbicara dengan mengulang-ulang kata orang di sekitanya. Belajar mengosok gigi dengan benar sampai cara makan yang baik. 

Para ahli pendidikan penganut pemodelan tingkah laku meyakini bahwa suatu tingkah laku dapat ditiru apabila siswa atau pengamat secara sadar mengamati tingkah laku yang ingin dipelajarinya. Apabila siswa tahu apa yang dipelajarinya, maka akan mudah mengikuti langkah-langkah yang diajarkan oleh guru dalam sebuah praktikum. Misalnya.

Pembelajaran direct Instruction merupakan strategi pembelajaran yang menekankan peniruan tingkah laku yang dilakukan oleh siswa. Langkah-langkah pembelajaran yang jelas. Dalam pembelajaran ini guru memegang peranan sebanyak mungkin dalam membimbing, melatih dan mengharapkan umpan balik dari siswa. Lalu memberi tugas. 

Dari hasil pemaparan diatas, maka strategi pembalajaran Direct Intruction adalah hasil dari suatu penerapan  teori peniruan tingkah laku yang sering disebut dengan teori Behavioristik. 

Kurikulum 2013 yang dirancang sebagai hasil dari teori Konstruktivisme dianggap sebagai kurikulum yang tidak lagi memberi ruang yang banyak kepada teori behavioristik. Tetapi dengan kesenjangan bahwa masih dibutuhkannya materi materi yang membutuhkan intruksi langsung seorang guru membuat strategi Direct Learning ini masih menjadi model pembelajaran favorit. 

Semoga tulisan ini bermanfaat!


Referensi:

https://dirinyachapunk.wordpress.com/2011/12/22/model-pembelajaran-konstruktivisme/
http://magister-pendidikan.blogspot.com/p/teori-konstruktivistik.html
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/01/27/model-pembelajaran-langsung/

0 komentar: