Hadiah Tahun Baru di Kelas

1/05/2019 Yusmira Yunus 0 Comments

Sertifikasi?! (Catatan sambil kerja rapor)

Bulan Desember buat sebagian besar pegawai baik di negeri ataupun swasta, adalah bulan berkah, bagaimana tidak, di bulan inilah banyak perusahaan yang berbagi hasil dengan pegawainya yang sering disebut bonus, besarannya melebihi beberapa kali lipat gaji pokok yang diterima tiap bulan.
Lalu bagaimana dengan guru yang bersertifikasi?

Ya, bulan ini juga adalah bulan berkah buat guru bersertifikasi, ini adalah rejeki tambahan yang Allah SWT beri kepada yang membutuhkan. Penerimaan sertifikasi dua kali setahun, periode pertama maksimal sebelum tanggal 15 dibilang September dan di bulan ini, Desember. Begitu info yang saya dapatkan dari diskusi dengan pemangku kebijakan sertifikasi guru di BKN.

Lalu, apa korelasinya dengan upaya guru untuk meningkatkan kompetensinya?
Seperti kita ketahui, bahwa sertifikasi adalah sebuah kompensasi yang diberikan kepada guru bersertifikat kompeten sebagai tenaga pengajar yang profesional, tenaga profesional yang dibuktikan oleh sertifikat dengan puluhan tahun pengalaman mengajar berbekal pengetahuan dasar di bangku kuliah dan pelatihan mandiri yang dilakukan. Itu bagi guru dalam jabatan.

Alhamdulillah, sudah 10 tahun, para guru merasakan peningkatan kesejahteraan, wajar buat saya, para guru mendapatkan tambahan tunjangan ini, karena mental dan karakter anak bangsa dikuatkan oleh cara didikan mereka dilingkungan sekolah. Untuk itulah guru punya peran utama dalam penguatan karakter anak bangsa.

Tetapi dari banyak riset, dan dari diskusi diskusi online di grup belajar, dampak sertifikasi masih belum terasa di dunia pendidikan, jikapun ada perubahan, ada yang menduga ini tidak sebanding dengan pemberian sertifikasi bagi guru.

Guru, telah mereformasi dirinya sendiri, guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, seperti julukan guru sewaktu saya masih SD di tahun 90-an. Guru sekarang bukan lagi dengan julukan itu, tetapi guru sekarang adalah "guru milenial dengan banyak tanda jasa". Saya berkata demikian, karena dengan pemberian sertifikasi, ternyata menambah dan mengikat dengan sendirinya bagi guru itu sendiri untuk terus belajar dan menebalkan rasa malunya jika tidak mengembangkan diri baik secara profesional atau secara penguasaan pedagogis, serta peran serta dalam pengabdian di masyarakat. Ya, menebalkan rasa MALU-nya jika tidak menggunakan bonus itu untuk mengembangkan diri, demi profesi dan peserta didik.

Tahun ini, Alhamdulillah, rasa malu saya semakin menebal, jika saya lebih sering terlambat ke sekolah, lebih sering tidak lagi menyiapkan RPP sebelum mengajar, dan malu bertambah jika pengelolaan nilai tidak objektif.

Sertifikasi adalah sebuah komitmen pembaharuan mutu diri pribadi dan profesi, bukan berarti tanpa sertifikasi seorang guru tidak akan mengembangkan diri, tetapi ini adalah penguatan positif dalam memudahkan semua niat baik seorang guru.

Jangan iri pada guru, mereka adalah ruh pendidikan dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Guru pun manusia punya keluarga dan cita-cita. Bagaimana bisa guru bekerja dengan penuh tanggung jawab, sementara di rumah masih ada yang kekurangan, masih ada yang harus berutang untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Semua berproses, semua berikhtiar, Maha penentu hanya Dia semata.
10% saja buat pengembangan diri. MALU jika..

Sumber: www.momktjeh.blosgspot.com

0 komentar: