Anak Transmigrasi: Sekolah Tumpuan Asa

2/06/2019 Yusmira Yunus 14 Comments


Melihat sekolah ini, saya teringat film berjudul "Jembatan Pensil" yang diperankan oleh Ondeng dan kawan-kawannya, rilis 2017 lalu yang dibintangi Kevin Julio. Anak-anak dengan semangat tinggi berangkat dan pulang sekolah melewati jembatan rapuh untuk menuju sekolah yang terletak di pinggir pantai. Ondeng seorang anak dengan keterbatasan mental sangat peduli dengan kawan-kawannya sampai harus membagi pensil menjadi lima bagian agar teman-temannya dapat menggambar. Sekolah dengan segala keterbatasannya memiliki seorang guru. Film ini membangkitkan empati dan simpati bagi masyarakat luas, terutama guru seperti saya.  Saya sampai sesunggukan menonton film ini. Saya betul-betul terharu.

Dari film ini saya belajar bahwa ada banyak anak-anak di luar sana, jauh dari perkotaan, pasokan listrik yang terbatas, juga memiliki impian yang sama dengan kita di sini, memiliki impian yang sama dengan anak-anak kita di sini, di kota-kota besar dengan segala kemudahannya. Mereka butuh perhatian dan kepedulian. Anak- anak kecil dengan segala keluguannya.

Satu-satunya cara untuk menemukan batasan  dalam hidup adalah dengan melangkah melebihi batasan yang Anda sebut dengan "tidak mungkin". The only way discover the limits of possible is to go beyond them into the "impossible". 
[Artur C. Clarke]

Desa transmigrasi? Sekolah transmigrasi?
Apa yang dapat kita bayangkan dengan desa-desa tersebut?

Keheningan malam mulai pecah dengan suara tik tok telepon, anak-anak berkumpul di rumah ronda membaca buku usang diterangi lampu 10 watt, suara jengkrik dan hewan malam lainnya masih sangat bersahabat. Siang, jalan berdebu. Hujan akan becek, licin dan rusak. Rute yang berliku, menyusuri sungai lalu masuk hutan, melewati pematang sawah, tebing dan sesekali rasa takut menyeruak dalam hati. Jauh dari keluarga. Jika bukan semangat mengabdi mungkin tidak ada lagi guru dengan ikhlas mengajar di sana, daerah transmigrasi. Jika bukan rindu dengan keluguan anak-anak transmigrasi, sebagian sahabat-sahabat kami (guru) mungkin sudah kalah lalu pulang. Tetapi selalu ada guru yang berhati malaikat seperti mereka yang memilih bertahan lalu betah. Mungkin saya harus banyak belajar bagaimana mereka bekerja dengan hati yang penuh. 


Sekolah-sekolah di daerah transmigrasi ibarat sulau bagi mereka, sekolah adalah ruang belajar, ruang menimbah ilmu pengetahuan, ibarat tirai jendela yang mengantar siswa melihat keluar rumah, melihat perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi di sekitarnya. Lalu guru sebagai jembatannya.

Sekolah transmigrasi bagi anak-anak Indonesia yang memutuskan tinggal di sana adalah bagian hidup terpenting buat mereka. Sekolah adalah hal yang begitu menarik apalagi guru-gurunya. 

Guru-guru di daerah transmigrasi adalah guru luar biasa, dia lah guru yang sebenarnya, dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, merek tetap menjaga Marwah dan semangat mendidik mereka di kelas. Meskipun proses belajar mengajar sangat sederhana, tetapi mereka mengajar berbasis lingkungan, memanfaatkan apa yang disekitar sebagai pembelajaran. 

Salut buat guru-guru di daerah transmigrasi. Semoga keikhlasan bapak ibu mengajar di sana di manapun berada,  diberikan hadiah luar biasa oleh Allah SWT untuk kehidupan mereka dan anak-anak mereka. 

Salam hangat dari saya, guru di kota,  yang belajar bagaimana menemukan makna hidup dalam keramaian hiruk pikuk yang kadang-kadang memekikkan telinga dan mengaburkan hati.