Usia 10 tahun, siswa masuk fase pubertas. Guru jangan cuek!

4/26/2019 Yusmira Yunus 8 Comments

     Sumber: pixabay


Orang tua pasti bahagia melihat  tumbuh kembang anak-anaknya. Seorang ibu hampir setiap jam dalam sehari mengamati perubahan fisik dan psikis bagi anak-anak mereka, Ibu adalah orang yang kali pertama mengetahui bahwa anak perempuannya sudah mengalami tanda-tanda pubertas. Ibu pula yang akan tersenyum geli melihat anak lelakinya mulai melemparkan senyum manis ke lawan jenisnya dengan sorotan mata yang malu-malu.

Pepatah WITA mengatakan “ Mending menjaga 1000 kerbau dibandingkan menjaga seorang anak gadis”. Pepatah ini menjadi pesan baik bagi para orang tua bahwa ada masa di mana anak-anak harus diberi pengawasan ekstra tetapi tidak mengekang.

Di masa pubertas inilah hati setiap ibu rasanya kembang kempis, di satu sisi bahagia karena anak mungilnya yang lucu dan menggemaskan  mulai tumbuh menjadi remaja yang mandiri dan bertanggung jawab. Di sisi lain, ibu menaruh kekhawatiran akan perilaku yang menyimpang di saat pubertas akibat pengaruh lingkungan sekitar.

Di jejang sekolah dasar, umur 10-12 tahun, siswa yang duduk di kelas lima dan enam SD sudah mengalami tanda-tanda awal mengalami perubahan fisik dan psikis, istilahnya disebut pubertas. Guru yang peduli terhadap perubahan tersebut selalu mengamati perilaku siswa-siswanya yang mengalami perubahan fisik dan kebiasan baru. Ini adalah sinyal baik bagi guru, apalagi materi tentang pubertas mulai diperkenalkan di kelas enam SD, tentu dengan konsekuensi kelas akan riuh-gaduh dengan serbuan cekikikan malu-malu dan tawa lepas dari para siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

Di sinilah diharapkan keterampilan mengajar seorang guru dalam menjelaskan materi, jujur tapi tidak vulgar. Tujuan materi yang tersampaikan dengan detail adalah bagian penting tahapan edukasi pendidikan seks (maaf). Siswa akan memilih secara sadar bahwa apa yang terjadi pada perubahan fisiknya adalah proses alam dan dialami oleh semua orang baik laki-laki maupun perempuan.


    sumber: pixabay
Membesarnya ukuran pinggul, paha, dan lengan, bertambahnya berat badan, mulai tumbuh rambut halus di sekitar kemaluan, mulai jerawatan, dada membesar, menstruasi, dan mulai bau badan adalah tanda hormon progesteron mulai bekerja lebih aktif,  bahwa anak perempuan memasuki fase pubertas. Satu lagi, hal yang paling dirahasiakan oleh mereka adalah ketika mulai mengamati dan menyukai lawan jenis secara diam-diam.

Bagi laki-laki, pubertas ditandai dengan bertambahnya berat badan dengan cepat, bahu bertambah lebar, lengan bertambah kekar. Di semester dua saat siswa di kelas enam, beberapa anak laki-laki sudah menunjukkan perubahan  tersebut, suara mulai nge-bass, parfum sudah masuk daftar wajib isi tas mereka, dan mulai mengamati lawan jenis apalagi memberi perhatian khusus.

Guru dan orang tua tentu mengamati perubahan ini pada anak-anaknya. Susah-susah gampang memberi tahu anak-anak bahwa kalian sudah remaja. Hal ini dikarenakan remaja biasanya sudah mampu mengambil keputusan sendiri, lebih memilih mendengar saran dan masukan teman-temannya  ketimbang orang yang lebih dewasa dan orang tua. 


    Sumber: pixabay
Orang tua wajib membuka diri dan berusaha tegas. Sayangnya, menurut penelitian orang tua cenderung cuek dan menghindar jika diajak diskusi soal seksualitas oleh anak-anak mereka, bahkan beberapa orang tua tidak membuka diskusi dan membiarkan anak-anaknya berkembang dan mempelajari semuanya sendiri.

Lalu sebagai guru dan orang tua, saran apa yang baik untuk dijalankan? Berikut beberapa saran yang baik, dijadi pengingat di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia.

Pertama, Orang tua adalah pendidik.

Anak-anak adalah titipan Tuhan yang Maha Kuasa, anak adalah karunia yang tak ternilai harganya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan baik, mendekatkan mereka dengan ajaran agama, dan memberi serta menciptakan lingkungan yang positif.

Kedua, orang tua sebagai pendamping.

Sebagai pendamping dan teman, orang tua wajib menjelaskan secara detail apa akibat jika melanggar aturan agama, kesusilaan dan aturan lainnya. Anak diharapkan melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya sendiri. Biasakan ajak anak jalan berdua, beritahulah tanpa menggurui sehingga anak merasa nyaman dan terbuka kepada orang tua.

Ketiga, orang tua sebagai team supervisi

Cara pandang remaja terhadap pendidikan seks  biasanya dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekitar dan bahkan media sosial.  Dewasa ini media sosial bahkan mengambil peran tersebut lebih banyak. Anak-anak cenderung lebih mudah mencari informasi seputar pendidikan seks lewat internet dibanding bertanya atau diskusi dengan orang tua mereka. Di sinilah peran orang tua sebagai team supervisi, guna mengevaluasi sejauh mana pemahaman dan ajaran agama telah terinternalisasi ke dalam sikap dan prinsip mereka menjalani masa remaja.

Terakhir, saya sebagai guru dan orang tua, menulis artikel singkat ini sebagai bahan evaluasi bagi diri saya sendiri, tiap tahun memiliki 30an anak didik dengan segala keluguannya, ditambah dua anak gadis kecil dengan segala kelucuannya. Semoga kelak mereka para siswaku dan anak-anakku menjadi remaja yang positif dan membanggakan guru dan orang tua. Aamiin. 

Semoga artikel singkat ini bermanfaat.

8 komentar: