Menanamkan Toleransi Sejak Dini, Ini yang Dapat Kita Lakukan!

5/10/2019 Yusmira Yunus 4 Comments


Gambar: FB Rahmawati
Bangsa Indonesia adalah bangsa plural yaitu bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya dan adat istiadat. Negara yang selalu mengakui keberagaman di tengah kehidupan bermasyarakat berdasarkan pancasila sebagai Dasar Negara. 
Telinga rasanya semakin akrab dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda beda tetap satu juga. Semboyan ini memiliki makna  yang sangat luar biasa bagi bangsa Indonesia sebagai simbol persatuan dan kesatuan dan kerukunan. 
Damai rasanya hati ini hidup di tengah masyarakat yang saling menghargai, tak ada caci maki, tak ada saling bully, semua saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada tanpa memaksakan kehendak pada orang lain. 
Sebagai orang tua, melihat anaknya dapat menghargai teman-temannya dalam bergaul adalah hadiah yang luar biasa, terlebih jika tetap dalam kesantunan di tengah kehidupan masyarakat yang heterogen.
Anak-anak harus diajarkan toleransi sejak dini, karena ini akan menjadi bekal mereka hidup di tengah masyarakat yang plural, sebagai bangsa Indonesia. 
Lalu apa saja yang dapat kita lakukan untuk membiasakan anak bertoleransi sejak dini?
Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan, diantaranya:
Memberi contoh yang baik
Gambar: Google
Saya teringat dulu, ketika masih di sekolah dasar ditahun 1999, setiap Idul Fitri teman-teman yang beragama Nasrani dan Hindu, selalu berkunjung ke rumah. Sebagai anak kecil, kami senang ketika makan kue bersama sambil minum sirup orange yang mama sediakan,  bermain bersama lalu ibu mengantar teman-teman mengambil angkutan umum untuk pulang. 
Saya pun demikian, ketika mereka mengadakan Natal, saya dan beberapa teman berkunjung ke rumah mereka, memberi selamat. Ibu bahkan membungkuskan hadiah untuk mereka.  Tetapi satu sahabat saya meniggal karena melahirkan, sayang tak sempat melihat karena dia di kampung waktu itu. 
Orang tua akan  selalu mengajarkan dan mengingatkan, bahwa berbicara dengan baik dan sopan adalah wujud penghargaan kita pada makhluk Tuhan. Menghargai sesama adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta dan kehidupan yang diberikan.
Bercanda di depan anak tentang hal-hal yang  mengandung unsur SARA, akan berdampak bagi pergaulan anak, ingat bahwa anak-anak adalah makhluk yang sangat cerdas meniru. Ketika anak kita membully mungkin tanpa kita sadari, kita pernah membully orang di depan mereka, sadar ataupun tidak.  
Perkenalkan Budaya lewat buku dan tontonan, lebih baik lagi jika mengalami sendiri.
Gambar: Dokumen Pribadi
Pekan budaya yang dicanangkan  Walikota Makassar beberapa waktu lalu, yang akan diadakan setiap tanggal 1 April diikuti hampir seluruh sekolah merupakan salah satu cara untuk mengajarkan anak-anak akan budaya Indonesia yang kaya. Mereka mengenakan berbagai pakaian adat dari daerah lain dan mempelajarinya di dalam kelas-kelas dan ruang-ruang publik yang ramah. 
Budaya juga dapat diperkenalkan lewat buku dan tontonan, menonton berbagai macam film budaya dengan latar belakang suku dan demografi akan memancing motivasi anak untuk  belajar dan menghargai keanekaragaman yang ada. Mereka akan melihat ini sebagai kekayaan  bangsa. 
Menemani anak ketika membaca dan menonton adalah kegiatan paling baik untuk menanamkan mereka akan hal-hal baik yang mereka dapatkan dari buku dan tontonan tersebut. 
Hargai anak, perlakukan mereka dengan hormat
Gambar: FB Rahmawati
Anak-anak yang diperlakukan dengan rasa cinta dan hormat, akan tumbuh menjadi anak yang memiliki pribadi yang kuat, percaya diri,  pribadi yang santun dan tidak memaksakan kehendak. 
Sebaliknya anak-anaknya yang tumbuh di tengah keluarga yang keras dan jauh dari sikap saling menghargai dan menghormati, anak-anak akan tumbuh dengan sifat yang keras kepala dan cenderung kasar. Apa yang mereka lihat, itu yang mereka lakukan. 
Demikianlah cara sederhana untuk mengajarkan dan menumbuhkan rasa toleransi anak sejak dini. 
Semoga artiklel ini bermanfaat




4 komentar:

Ainhy Edelweiss mengatakan...

Kegiatan seperti ini baiknya sering2 diadakan dan dicontohi sekolah lainnya, mengingat ad bbrp org dewasa yg malah tdk mencontohkan sikap toleransi

Siska Dwyta mengatakan...

Toleransi khususnya dalam bergama di tempat tinggal saya di papua lumayan tinggi. Saya jadi ingat waktu kecil kami saling berkunjung jika ada hari perayaan agama. Namun setelah besar baru saya tahu dan paham bahwa apa yang saya lakukan itu bertoleransi dengan memberikan ucapan selamat atau berkunjung ke rumah teman saat perayaan agamanya termasuk hal yang keliru.

Mungkin perlu diluruskan pada anak-anak bu guru, toleransi yang diperbolehkan dalam islam hanyalah toleransi yang berkaitan dengan muamalah atau hubungan sesama manusia tapi toleransi terkait akidah itu sama tidak diperbolehkan dalam agama kita.


Primasari AndiMirati mengatakan...

bertoleransi memang perlu ditanamkan sejak dini agar saat dewasa nanti kesenjangan dan bullying berlatat perbedaan bisa diminimalisir..

Daeng Ipul mengatakan...

Makin hari memang situasi toleransi di negara kita makin kacau ya.
Kalau menolak memberi ucapan selamat untuk perayaan hari besar agama atau hal yang berkaitan dengan akidah bolehlah, tidak masalah. Tapi kalau sudah berlanjut menjadi intoleransi dalam kehidupan sosial rasanya koq ya makin mengkuatirkan.

akhinya memang dibutuhkan cara untuk menanamkan toleransi kepada anak sejak dini